Mengenal Pesawat Boeing yang Digunakan Lion Air JT-610 dan Persaingannya dengan Airbus

Jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta ke Pangkal Pinang pada Senin, 29 Oktober 2018 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, membuat perhatian juga tertuju pada pabrikan pesawat Boeing. Pasalnya, maskapai yang mengangkut 189 penumpang itu diketahui menggunakan pesawat keluaran terbaru yakni Boeing 737 Max 8. Sehingga mau tak mau Boeing juga kena imbasnya.

Pesawat yang dipakai maskapai Lion Air itu pun terbilang masih sangat baru dan mulai beroperasi sejak 15 Agustus 2018 lalu. Menurut Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro, pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP tersebut dinyatakan laik terbang. 

"Pesawat ini buatan 2018 dan baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus 2018. Pesawat dinyatakan laik operasi," kata Danang dalam keterangan tertulisnya, Senin, 29 Oktober 2018 lalu.. 

Sementara, setelah kecelakaan tersebut, Boeing mengaku mengetahui bahwa pesawat buatannya mengalami kecelakaan. Melalui akun Twitternya, @BoeingAirplanes, mereka terus memantau situasi dengan cermat.

Baca juga: Di Luar Kejadian Lion Air JT-610, Ternyata Pesawat Masih Jadi Moda Transportasi Paling Aman di Dunia

"Kami telah menerima laporan adanya kecelakaan pesawat (Lion Air JT 610). Kami selalu memantau situasi dengan cermat," demikian keterangan resmi produsen pesawat asal Amerika Serikat itu.

Tentang Boeing 737 MAX 8

Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa Lion Air JT-610 menggunakan pesawat jenis Boeing 737 MAX 8, yang merupakan armada anyar dan sejauh ini baru dipakai selama kurang lebih 2,4 bulan. Boeing 737 MAX 8 digadang-gadang memiliki banyak keistimewaan seperti daya jelajah lebih tinggi dan kenyamanan dalam bilik kabin. 

Sebagai pesawat penumpang canggih karena menggunakan teknologi generasi keempat, mesin Boeing 737 MAX 8 dirancang lebih ringan sehingga efisien bahan bakar bisa mencapai lebih hemat 20 persen. Pesawat jenis ini memang masih berusia 2 tahun memasuki dunia penerbangan global, sejak diproduksi Boeing Commercial Airplanes pada 2016. 

Seperti diketahui, Boeing sendiri baru memulai program desain dan perakitan pesawat tersebut di Amerika Serikat pada 30 Agustus 2011 lalu. Uji coba dimulai pada 29 Januari 2016. Lalu, tiga bulan kemudian, sertifikasi dari regulator AS dikantongi pada 3 Maret 2017. Pesawat ini merupakan produk terlaris dalam sejarah Boeing dengan pesanan 4.783 unit pesawat (per September 2018) dari seluruh dunia, dalam kurun waktu kurang dari 7 tahun. 

Baca juga: Pesawat Lion Air JT-610 Dikatakan Laik Terbang, Gimana Kondisi Ideal Pesawat untuk Terbang?

Menariknya lagi, ada perbedaan ketika melihat sayap pesawat Boeing 737 MAX 8. Berbeda dengan pesawat kebanyakan, ujung sayap Boeing 737 MAX 8 terlihat seperti terbelah menjadi dua, satunya menjulur ke atas dan satu ke bawah.

Ternyata, model sayap yang terbelah ini berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap, terutama saat pesawat terbang dalam kecepatan tinggi. Sementara itu, dari sisi kabin sendiri, Boeing 737 MAX 8 terasa lebih nyaman bagi penumpang. Hal ini lantaran pada Boeing 737 MAX 8 hanya terdapat 180-189 seat sehingga space untuk duduk lebih luas.

Selain itu, Boeing 737 MAX 8 juga memiliki suara mesin yang halus sehingga tak seberisik pesawat lainnya. Hal ini semakin menambah kenyamanan penumpang, apalagi suasana kabin dibuat lebih senyap.

Banyak Maskapai Dunia Memborong Boeing 737 Max

Pesawat Boeing 737 Max merupakan andalan Boeing dan penjualannya paling laku sepanjang sejarah perusahaan asal AS tersebut. Menariknya, berkali-kali, Boeing membandingkan keunggulan mekanis Boeing 737 Max dengan pesawat buatan Airbus.

Besarnya pemesanan Boeing 737 Max sampai dengan 30 September 2018 adalah 4.783 unit. Jumlah itu naik 477 unit dari tahun sebelumnya. Salah satu yang menjadi keunggulan Boeing 737 Max adalah menjanjikan perawatan yang memakan waktu lebih singkat ketimbang Airbus a320.

Boeing 737 Max pun berhasil memikat sejumlah maskapai penerbangan biaya rendah alias low-cost. Menurut data The Telegraph per 30 September 2018, ada 70 maskapai pemesan Boeing 737 Max. Maskapai low-cost seperti Southwest Airlines asal Amerika Serikat (AS) memesan sebanyak 280 Boeing 737 Max.

Lalu ada lagi maskapai Flydubai yang memesan total 251 pesawat dengan jenis tersebut. Di tempat selanjutnya, ada maskapai asal Indonesia yakni Lion Air yang memesan total 201 pesawat Boeing 737 Max, namun angka tersebut agak sedikit berbeda dari klaim Lion, dengan jumlah 218 pesawat.

Persaingan Boeing vs Airbus

Nama Boeing menjadi pabrikan pesawat paling populer di dunia tak lepas dari persaingan ketatnya dengan pabrikan pesawat lain asal Perancis, Airbus. Persaingan antara Boeing dan Airbus merupakan hasil dari duopoli kedua perusahaan tersebut di pasar pesawat penumpang sipil jet sejak dekade 1990an, sebuah konsekuensi dari penyatuan dalam pabrikan dirgantara global selama bertahun-tahun sebelumnya. 

Dalam persaingan ini, Airbus memulai sebagai konsorsium Eropa, sementara Boeing dari AS mengambil-alih mantan saingannya, McDonnell Douglas, saat McDonnell tidak lagi beroperasi dan bergabung dengan Boeing pada 1997.

Sementara itu, sejumlah pabrikan lainnya, seperti Lockheed Martin dan Convair di AS juga British Aerospace, Dornier dan Fokker di Eropa, telah menarik diri dari pasar penerbangan sipil dikarenakan masalah ekonomi dan penjualan yang menurun.

Airbus dan Boeing sejak akhir dekade 1990an telah mengadakan duopoli dalam pasar global untuk pesawat jet komersial berukuran besar yang terdiri dari pesawat berbadan sempit, lebar dan jet berukuran jumbo.

Dalam rentang 10 tahun terakhir (2003-2012), Airbus telah menerima 7,714 pesanan pesawat juga mengirim 4,503 pesawat, sementara Boeing menerima 7,312 pesanan juga mengirim 4,091 pesawat.

Yang jelas, sampai saat ini, Airbus SE dan Boeing Company tampil sebagai pabrikan pesawat komersial terbesar di dunia. Kedua pabrikan itu berlomba menghadirkan teknologi terkini dan model-model pesawat untuk menarik minat pembeli.

Seperti dikutip dari siaran pers Boeing, sepanjang Januari-September 2018, pabrikan asal Amerika Serikat itu mencatat pengiriman sebanyak 568 unit pesawat yang terdiri dari 737 (407 unit), 747 (5 unit), 767 (13 unit), 777 (37 unit) dan 787 (106 unit). 

Khusus untuk Kuartal III-2018 jumlah yang dikirim tercatat 138 unit terdiri dari 737 (138 unit), 747 (2 unit), 767 (4 unit), 777 (12 unit) dan 787 (34 unit). Sementara itu, sepanjang Januari-September 2018 Boeing menerima pesanan (net orders) sebanyak 631 unit, terdiri dari:

1. 737 sebanyak 448 unit
2. 747 sebanyak 14 unit
3. 767 sebanyak 38 unit
4. 777 sebanyak 27 unit
5. 787 sebanyak 104 unit

Lalu, untuk pabrikan pesawat asal Perancis yakni Airbus SE mengumumkan telah mengirim sebanyak 69 unit khusus September 2018, terdiri dari A320 (51 unit), A220 (3 unit), A330 (4 unit), A350 (10 unit) dan A380 (1 unit). Sepanjang Januari-September 2018, Airbus telah mengantongi pesanan (net orders) sebanyak 256 unit pesawat:

1. A319/A320/A321neo sebanyak 183 unit
2. A319/A320/A321ceo versions sebanyak 15 unit
3. A330ceo sebanyak 4 unit
4. A330neo sebanyak 4 unit
5. A350 XWB sebanyak 36 unit
6. A380 sebanyak 14 unit

Seiring waktu, Boeing dan Airbus memang sama-sama berusaha keras untuk memenangkan persaingan. Yang jelas, efisiensi menjadi jalan keluar terbaik bagi keduanya ditambah lagi soal persaingan harga.

Related Article