Catatan 2018 Asumsi: Suka Duka Olahraga Nasional

Tahun 2018 sudah memasuki penghujung dan tinggal menyisakan beberapa hari saja. Di sepanjang tahun ini, dimulai dari bulan Januari sampai Desember, banyak peristiwa-peristiwa penting dari dunia olahraga nasional. Dari prestasi bersejarah sampai kejadian miris mewarnai jagat olahraga di tanah air.

Masyarakat Indonesia tentu masih terngiang-ngiang dengan perhelatan megah Asian Games 2018 yang berlangsung beberapa bulan lalu di Jakarta dan Palembang. Ajang olahraga terbesar se-Asia itu berhasil membuat warga sibuk dengan euforia dan membantu kelancaran acara. Asian Games 2018 pun sempat membuat banyak orang susah move on.

Selain Asian Games 2018 yang tentu jadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, ada banyak lagi peristiwa olahraga nasional yang tak terlupakan di sepanjang tahun ini. Apa saja itu? Berikut Asumsi.co merangkum sederet suka duka peristiwa olahraga nasional dalam Catatan 2018 Asumsi.

Indonesia Jadi Tuan Rumah Asian Games dan Asian Para Games

Indonesia akhirnya sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018 setelah menunggu 56 tahun lamanya. Di pesta olahraga empat tahunan se-Asia itu, Jakarta dan Palembang ditunjuk sebagai kota penyelenggara. Perhelatan yang berlangsung sejak 18 Agustus-2 September 2018 itu pun berlangsung meriah.

Di Asian Games 2018, jumlah atlet yang ikut serta, mengalami peningkatan dibandingkan dari Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Dari jumlah 9.501 atlet menjadi 11.000 pada Asian Games 2018. Selain itu, ada penambahan jumlah cabang olahraga juga di mana sebelumnya 36 menjadi 40 cabang

Tak hanya itu saja, Indonesia juga berkesempatan menambah 10 cabang olahraga baru beberapa di antaranya yang berhasil menyumbangkan medali adalah cabor panjat tebing, pencak silat, paralayang, dan jet ski. Kontingen Indonesia sukses memperbaiki prestasi di Asian Games 2018. Tim Merah Putih mengoleksi total 98 medali dengan rincian 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu.

Di klasemen akhir perolehan medali, Indonesia menempati peringkat ke-4. Catatan itu menjadi prestasi terbaik selama keikutsertaan Indonesia di Asian Games sepanjang sejarah. Prestasi itu juga berhasil melewati target yang dicanangkan Kementerian Pemuda dan Olahraga dengan target masuk ke posisi 10 besar. 

Jika melihat perhelatan Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan lalu, Indonesia bahkan tercecer di posisi ke-17 di klasemen akhir. Saat itu, tim Merah Putih hanya mampu meraih total 20 emas dengan rincian 4 medali emas, 5 perak, dan 11 perunggu. Pencapaian Indonesia di Asian Games 2018 pun terbilang lumayan.

Baca Juga: Catatan 2018 Asumsi: Bocah-bocah yang Unjuk Gigi dan Viral

Sukses Asian Games, sukses pula Asian Para Games. Ya Indonesia juga berhasil menjadi tuan rumah yang baik pada perhelatan olahraga bagi kelompok disabilitas itu. Ajang empat tahun itu diselenggarakan di Jakarta.

Indonesia berhasil meraih total 135 medali dan berada di peringkat lima pada klasemen akhir Asian Para Games 2018. Tim Merah Putih meraih 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu. Pencapaian itu juga melewati target di mana pemerintah meminta para atlet meraih 16 emas dan masuk ke posisi tujuh besar. 

Perlu diketahui bahwa Indonesia hanya berhasil meraih total 38 medali dan berada di peringkat sembilan pada gelaran Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Prestasi Indonesia baik itu di Asian Games dan Asian Para Games 2018 pun cukup gemilang, apalagi dengan status tuan rumah sehingga prestasi pun menjadi lengkap.

Muhammad Zohri Juara Dunia Atletik

Lalu Muhammad Zohri menghebohkan masyarakat Indonesia dengan prestasinya. Ia sukses tampil sebagai juara dunia setelah jadi pelari tercepat pada nomor 100 meter di IAAF World U20 Championship, di Tampere, Finlandia, Rabu, 11 Juli lalu. Zohri yang baru berusia 18 tahun itu menjadi pelari pertama yang mencapai garis finish dengan catatan waktu 10,18 detik. 

Pelari asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu pun sukses mengungguli dua favorit juara asal Amerika Serikat, Anthony Schwartz di posisi kedua dengan catatan waktu 10,22 detik dan Eric Harrison yang meraih 10,22 detik di tempat ketiga.

Seperti diketahui, Zohri sendiri sebenarnya bukanlah unggulan utama di Kejuaraan Dunia Junior tersebut, meski dirinya berstatus sebagai juara Asia U20, Juni lalu dengan catatan waktu terbaik 10,27 detik yang dipertajam di Jakarta menjadi 10,25 detik.

Tak hanya itu saja, Zohri juga berperan besar menyumbangkan medali di Asian Games 2018. Bersama tiga rekannya, Fadlin, Eko Rimbawan, dan Bayu Kartanegara, nomor lari tim estafet 4x100 meter putra meraih perak. Pelari Indonesia yang mencatatkan waktu 38,77 detik itu harus mengakui keunggulan Jepang dengan catatan waktu 38,16 detik.

Eko Yuli Irawan Sang Juara Angkat Besi

Sosok atlet yang juga berhasil mengukir prestasi gemilang di pentas Asian Games 2018 adalah atlet angkat besi Eko Yuli Irawan. Tampil di kelas 62 kilogram, Eko berhasil meraih medali emas setelah berhasil menyelesaikan total angkatan 311 kilogram. Prestasi Eko pun tak berhenti sampai di ajang Asian Games 2018 saja, setelah itu lifter asal Lampung itu pun mengukir prestasi lainnya di kancah dunia.

Baca Juga: Catatan 2018 Asumsi: Kata-kata yang Paling Sering Digunakan Orang-orang Indonesia

Eko berhasil menyabet total tiga medali emas sekaligus saat bertanding di Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Ashgabat, Turkmenistan, November 2018 lalu.prestasi di Asian Games 2018 dan Kejuaraan Dunia 2018 pun menjadi modal penting bagi Eko untuk bersiap mengikuti Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Heboh Jonatan Christie

Pebulutangkis tunggal putra andalan Indonesia Jonatan Christie jadi pahlawan baru bagi Indonesia saat tampil di pentas Asian Games 2018 beberapa bulan lalu. Ia berhasil meraih medali emas bulutangkis putra pada perhelatan yang berlangsung di Istora, Senayan itu. Jojo, panggilan akrabnya mengalahkan Chou Tien Chen di final, Selasa 28 Agustus 2018.

Pada laga yang berlangsung sangat ketat itu, Jojo berhasil meraih kemenangan atas Chou lewat pertandingan rubber game, dengan skor akhir 21-18, 20-22, dan 21-15. Tak hanya itu saja, pesona Jojo selama pertandingan babak awal hingga partai final berhasil membius penonton di Istora.

Penonton kerap berteriak histeris setiap kali Jojo berhasil memenangkan pertandingan dan melakukan selebrasi buka baju. Momen itu lah yang akhirnya membuat Jojo jadi sorotan dan bahkan sampai menjadi trending topic di media sosial.

Pelukan Jokowi-Prabowo di Asian Games 2018

Ada satu momen mengharukan terjadi di perhelatan Asian Games 2018. Apalagi kalau bukan pelukan dua tokoh nasional yang paling sering dibicarakan akhir-akhir ini yakni Presiden RI Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Momen bersejarah itu terjadi saat pertandingan pencak silat.

Pesilat Hanifan Yudani yang saat itu berhasil merebut medali emas di kelas 55-60 kilogram, merayakan kemenangan dengan memeluk Presiden Jokowi dan Prabowo yang hadir menyaksikan langsung pertandingan di Padepokan Pencak Silat TMII, Rabu, 29 Agustus 2018. Sontak momen itu pun banyak diabadikan dan langsung menghebohkan.

Pada gelaran Asian Games 2018 lalu, pencak silat pun menjadi cabang olahraga yang menyumbangkan medali emas terbanyak. Tercatat sebanyak 14 emas berhasil diberikan Pencak Silat ke kontingen Indonesia. Selain sukses mengukir prestasi, pencak silat juga jadi pusat perhatian publik.

Timnas Indonesia Gagal di Piala AFF 2018

Timnas Indonesia meraih hasil buruk di pentas Piala AFF 2018. Skuat Garuda yang dilatih Bima Sakti gagal lolos ke semifinal dan harus terhenti di fase grup. Kepastian itu didapat setelah Stefano Lilipaly dan kawan-kawan hanya mampu bermain imbang melawan Filipina di laga terakhir Grup B.

Di klasemen akhir, Timnas Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan total 4 poin dari hasil satu kali menang, satu kali imbang, dan dua kali kalah. Hasil itu membuat Indonesia hanya lebih baik dari Timor Leste di Grup B.

Gagal lolos dari fase grup tentunya menjadi pencapaian buruk bagi Timnas senior. Padahal, di Piala AFF 2016 lalu, Timnas Indonesia mampu mencapai final. Berikut fakta-fakta tersingkirnya Indonesia dari Piala AFF 2018.

Suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla Tewas

Pada September 2018, sepakbola Indonesia berduka. Adalah Haringga Sirla yang menambah catatan hitam suporter sepakbola yang tewas di Indonesia. Haringga meregang nyawa saat Persib Bandung menjamu Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 23 September 2018. 

Haringga tertangkap basah oleh para suporter Persib Bandung datang ke Stadion GBLA sendirian. Massa yang sudah terpancing emosi pun menghabisi Haringga tanpa ampun. Dari kasus itu polisi menetapkan delapan tersangka yang terlibat dalam aksi pengeroyokan.

Edy Out dan Isu Pengaturan Skor Sepakbola Indonesia

Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi nyaris selalu jadi perbincangan publik di sepanjang tahun 2018 ini. Dimulai dari komentar-komentar nyelenehnya terhadap wartawan, sampai bermunculannya tagar Edy Out di jagat media sosial.

Publik meminta Edy untuk melepas jabatannya sebagai Ketum PSSI. Ia dinilai gagal meningkatkan prestasi Timnas Indonesia, apalagi setelah gagal di Piala AFF 2018. Selain itu, ia juga dianggap tak fokus menjalani tugasnya sebagai Ketum PSSI lantaran rangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara dan Dewan Pembina PSMS Medan.

Tak hanya itu saja, sepakbola nasional juga diguncang isu pengaturan skor dalam beberapa bulan terakhir. Isu itu muncul setelah adanya pengakuan Manajer Madura FC Januar Herwanto yang mengatakan ada upaya pengaturan skor di kompetisi Liga 2 Indonesia. Ia menyebut pengaturan pertandingan melibatkan timnya saat akan menghadapi PSS Sleman di babak penyisihan grup timur Liga 2 Indonesia.

Januar juga menyebut pernah dihubungi oleh petinggi PSSI bernama Hidayat agar mengalah dalam pertandingan melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo pada Mei lalu. Hidayat juga disebut-sebut menawarkan sejumlah uang agar Madura FC mau mengalah. Namun Januar menolak tawaran Hidayat yang merupakan anggota Komite Eksekutif PSSI saat itu.

Dalam acara TV Mata Najwa, Hidayat membantah terlibat dalam pengaturan skor. Meski demikian, selang beberapa hari usai membantah tudingan pengaturan skor, Hidayat mundur dari jabatannya sebagai anggota Komite Eksekutif PSSI.

Related Article