Politik

Respons Jokowi Soal Baliho BEM KM UGM yang Sebut Jokowi Alumni Paling Memalukan

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
Penobatan Jokowi Alumni UGM Paling Memalukan/IG BM KM UGM

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons baliho Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menggelari dirinya sebagai alumni paling memalukan. Jokowi mengingatkan mengenai sopan santun.

“Ya, itu proses demokrasi. Boleh-boleh saja. Tetapi, perlu saya juga mengingatkan, kita ini ada etika, sopan santun ketimuran,” ujar Jokowi dalam keterangannya, Senin (11/12/2023).

Diketahui, kritik tersebut disampaikan melalui baliho berukuran sekitar 4,3 meter yang dipasang di sebelah utara Bundaran UGM, Yogyakarta, pada Jumat (8/12/2023). Baliho bertuliskan ‘Penyerahan Nominasi Alumnus UGM Paling Memalukan’ itu bergambar Presiden Jokowi dengan dua sisi wajah.

Yaitu, menampilkan separuh wajah Jokowi berjas hitam memakai mahkota raja dengan latar Istana Negara dan keterangan masa jabatan 2014-2024. Di sisi lain, separuh wajah Jokowi beralmamater memakai caping dengan latar kampus UGM dan keterangan masa kuliah 1980-1985.

Sebelumnya, Ketua BEM KM UGM, Gielbran Muhammad Noor menobatkan Jokowi sebagai alumni UGM paling memalukan. Itu disampaikan Gielbran saat menanggapi dugaan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019, Agus Rahardjo mengaku pernah diperintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menghentikan kasus e-KTP yang menjerat, Setya Novanto (Setnov).

Ia menganggap intervensi itu sebagai wujud tidak berintegritasnya kepemimpinan Presiden Jokowi dalam konteks pemberantasan korupsi.

“Melihat kondisi tersebut, saya selaku ketua BEM KM UGM, yang mana merupakan satu almamater dengan Pak Jokowi, saya rasa ini waktu yang tepat untuk menobatkan Pak Jokowi sebagai alumni UGM paling memalukan karena beliau seharusnya memiliki kuasa untuk memberantas korupsi, justru ironis ketika beliau mengintervensi dan memperlambat kasus korupsi, menghentikan kasus korupsi,” tutur Gielbran.

Ia menilai, dugaan intervensi terhadap KPK merupakan penyelewengan kekuasaan sekaligus wujud tidak adanya itikad baik atau semangat memberantas korupsi di era kepemimpinan Presiden Jokowi. Apalagi, banyak pembantu Presiden Jokowi dalam Kabinet Indonesia Maju yang justru tersandung kasus korupsi.

Dari Edhy Prabowo, Juliari Batubara, Edward Omar Sharif Hiariej, Johnny Gerard Plate, sampai Syahrul Yasin Limpo (SYL). Bahkan, di era kepemimpinan Presiden Jokowi, Ketua KPK, Firli Bahuri, terseret kasus pemerasan terhadap SYL.

“Belum lagi ada erat-erat kelindannya antara Firli Bahuri dengan Irjen Karyoto, Kapolda Metro Jaya, saya rasa itu menjadi, menjadikan Indonesia tidak memiliki prestasi apapun perihal pemberantasan korupsi,” ujar Gielbran.

Baca Juga:

Veto AS Buat DK PBB Gagal Terbitkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

Ditahan KPK, Eks Kepala Bea Cukai Yogyakarta Ungkap Ada Penyelundupan Gula Rugikan Negara Rp1,2 T

KPK Sesalkan Mantan Terpidana Korupsi Dimakamkan di Makam Pahlawan

Share: Respons Jokowi Soal Baliho BEM KM UGM yang Sebut Jokowi Alumni Paling Memalukan