Vigit Waluyo, Buronan Korupsi dan Jaringan Mafia Bola

Drama jaringan mafia bola di Indonesia sudah menguak banyak fakta baru. Salah satunya soal mantan manajer Deltras Sidoarjo, Vigit Waluyo, yang akhirnya menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Sidoarjo. Sebelumnya, ia sudah sejak lama dinyatakan buron alias masuk daftar pencarian orang (DPO). Vigit ternyata terlibat kasus korupsi, di samping juga masuk dalam jaringan mafia bola.

Vigit sendiri menyerahkan diri pada Jumat, 28 Desember 2018 lalu. Namun ia menyerahkan diri bukan berhubungan dengan kasus mafia bola ini. Penyerahan dirinya malahan terkait kasus korupsi dana pinjaman PDAM Delta Tirta Sidoarjo tahun 2010 senilai Rp 3 miliar. "Yang bersangkutan (Vigit Waluyo) menyerahkan diri Jumat pekan lalu dengan diantar keluarganya," kata Kepala Kejakasaan Negeri Sidoarjo, Budi Handaka, kepada wartawan saat konferensi pers, Senin siang, 31 Desember 2018.

Menurut Budi, setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, Vigit langsung dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IA Sidoarjo. Ia ditetapkan sebagai DPO sejak pertengahan 2018 lalu setelah Kejari Sidoarjo menerima salinan putusan kasasi dari Mahkamah Agung. Akhirnya, ia pun menyerahkan diri di penghujung tahun 2018.

Sosok yang disebut-sebut terlibat dalam pengaturan skor di sepakbola nasional itu, dinyatakan bersalah dan harus menjalani hukuman penjara 1 tahun 6 bulan. Sebelumnya dia divonis bebas di tingkat pengadilan tinggi.

Baca Juga: Catatan 2018 Asumsi: Suka Duka Olahraga Nasional

Selain Vigit, kasus itu juga menyeret mantan Direktur Utama PDAM Delta Tirta Sidoarjo, Djayadi. Dalam kasus ini, Djayadi sendiri, yang divonis sama dengan Vigit, sudah lebih dulu dijatuhi hukuman pada awal 2017 lalu. Saat ini ia tengah menjalani hukuman di LP Klas I Surabaya di Porong.

Namun, seperti yang sudah disebutkan di atas, nama Vigit juga masuk dalam daftar orang yang terkait kasus mafia bola. Seperti apa keterkaitannya dengan kasus ini?

Segera Diperiksa Satgas Anti Mafia Bola dan Komdis PSSI

Vigit Waluyo yang merupakan salah satu terduga pengaturan skor pertandingan (match fixing) kabarnya bakal dipanggil untuk menjalani pemeriksaan oleh Satgas Anti Mafia Bola. Ia diduga menjadi pelaku praktik kotor pengaturan skor di kompetisi sepakbola Indonesia, tepatnya ajang Liga 2 atau 3 2018 lalu. Nama Vigit muncul pertama kali di program acara TV Mata Najwa.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri (Karopenmas Divhumas) Brigjen Pol Dedi Prasetyo kalau Vigit Waluyo hanya akan diperiksa soal dugaan match fixing saja. "Perihal mekanisme (bagaimana) penyelidikannya sudah diulas oleh Satgas (Anti Mafia Bola), nanti akan kami beritahu (lagi)," kata Dedi Prasetyo kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 1 Januari 2019.

Tak hanya Satgas Anti Mafia Bola saja yang akan bergerak, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bahkan baru-baru ini mengungkapkan akan memanggil Vigit untuk melakukan pemeriksaan usai menyerahkan diri ke Kejari Sidoarjo dan resmi dijebloskan ke penjara. Vigit sendiri sebenarnya sudah terdaftar dalam daftar nama yang akan dipanggil Komdis PSSI untuk dimintai keterangan terkait dugaan pengaturan skor pertandingan.

"Jika bicara indikasi keterlibatan (Vigit) begitu banyak. Dari media massa serta keterangan lain juga kuat," kata Ketua Komdis PSSI Asep Edwin kepada pewarta di Jakarta, Selasa, 1 Januari 2019.

Baca Juga: Mbah Putih Ditangkap dan Cara Kotor Mafia Bola Atur Pertandingan

Menurut Asep, munculnya nama Vigit tentu jadi keuntungan tersendiri dalam mengungkap praktik kotor pengaturan skor pertandingan di pentas sepakbola nasional. "Data yang kami miliki dirasa sudah cukup. Tinggal bagaimana mematangkannya saja. Diharapkan mereka bisa hadir," ujar Asep.

Sepak Terjang Vigit di Sepakbola Nasional

Beberapa waktu terakhir, nama Vigit Waluyo memang santer jadi perbincangan terutama setelah dalam program acara TV Mata Najwa, Rabu, 28 November 2018 dengan bahasan ‘PSSI Bisa Apa?’. Salah satu narasumber yakni Bambang Suryo, bekas runner pengaturan skor pertandingan atau match-fixing, mengungkapkan bahwa sepakbola Indonesia memang sudah sejak lama dihantam isu kotor tersebut.

Fakta lebih luas diungkapkan Bambang bahwa pengaturan skor pertandingan di sepakbola nasional melibatkan pemain dan pelatih dari sebuah kesebelasan, wasit, bahkan pengurus federasi sepakbola Indonesia, dalam hal ini PSSI. Bahkan, ia menyebut Vigit sebagai dalang pengaturan skor di kompetisi kasta kedua sepakbola Indonesia, Liga 2.

Bambang mengatakan bahwa Vigit merupakan kepanjangan tangan dari bandar-bandar judi kelas kakap. "Saya sebutkan salah satu nama yang saya bilang Sontoloyo tadi itu Vigit Waluyo," kata Bambang Suryo pada acara itu.

Setelah itu, sang pembawa acara, Najwa Shihab langsung bertanya Bambang tentang siapa sosok Vigit yang ia sebutkan itu. Lantas, pada kesempatan itu, Bambang membeberkan bahwa Vigit merupakan sosok yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia sepakbola Indonesia bahkan sejak era Galatama.

Baca Juga: Bambang Suryo, Sosok yang Dua Kali Disanksi Seumur Hidup oleh PSSI

"Vigit adalah pengelola Mojokerto Putra. Dia stay di Solo dan Jogja, bandar dari PKD adalah kebetulan berkomunikasi via by phone, lewat Vigit,” ujar Bambang.

Tak berhenti sampai di situ, Najwa juga menanyakan hubungan Vigit dengan PSSI. Hal itu langsung ditanggapi Bambang yang menilai orang-orang PSSI tentu tahu dengan sosok Vigit namun membiarkannya. "Jelas PSSI tahu, di Sleman di Jogja kan ada orang Exco juga ada Johar Lin Eng, dan banyak lainnya," ujarnya.

Pernyataan Bambang itu pun langsung dibantah Gusti Randa. Ia menuding Bambang Suryo berpotensi menebar hoax alias kabar bohong. "Anda ini dari tadi bilang sontoloyo segala macam, kalau ada bukti ya report saja. Anda berpotensi menebar hoax," kata Gusti Randa yang membantah pernyataan Bambang Suryo soal PSSI yang mengetahui soal sosok Vigit.

Keterlibatan Vigit di dunia sepakbola dimulai pada era 1970-an silam ketika kompetisi Galatama digelar di Indonesia bersamaan dengan ajang Perserikatan. Sejak saat itu, Vigit identik dengan beberapa kesebelasan, mayoritas dari Jawa Timur. Ia bahkan masuk dalam kepengurusan manajemen kesebelasan seperti Deltras Sidoarjo, Persewangi Banyuwangi, PSIR Rembang, dan Bhayangkara FC (saat masih bernama Persikubar Kutai Barat yang kemudian disulap menjadi Persebaya Surabaya Divisi Utama, Bonek FC, dan Surabaya United).

Baca Juga: Ratu Tisha dan Usaha PSSI Perangi Match Fixing

Vigit sendiri pernah menjabat Plt Ketua Pengprov PSSI Jawa Timur. Selain itu, ia juga merupakan pengelola klub Kalteng Putra dan PSMP Mojokerto, klub yang tampil di Liga 2 yang musim ini berhasil lolos ke babak 8 besar meski akhirnya gagal melaju ke semifinal untuk merebut tiket promosi ke Liga 1. Beberapa klub di Jatim, salah satunya Deltras Sidoarjo, juga ditangani Vigit.

Nama Vigit memang kerap disebut sebagai otak dari berbagai kasus pengaturan skor dalam pertandingan sepakbola Indonesia. Ia ‘bermain’ di berbagai kasta kompetisi sepakbola, baik itu kasta teratas maupun kasta rendah.

Kemunculan nama Vigit sendiri tentu dianggap bakal bisa membuka jalan sekaligus mengungkapkan dalang yang lebih besar dalam kasus pengaturan skor pertandingan atau match fixing di pentas sepakbola Indonesia. Menarik ditunggu!

Related Article