Tontowi Ahmad dan Status Magang di Ujung Karier

Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad memutuskan gantung raket. Keputusan yang mengejutkan banyak pihak itu disampaikan Owi lewat surat pengunduran diri kepada Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Senin (18/5). Sebenarnya, rencana pensiun sudah pernah disampaikan Owi pada akhir Februari lalu. Saat itu, ia menyatakan hendak menggantung raket selepas turnamen All England. 

Namun, situasi berbeda ketika pandemi COVID-19 datang. Atlet kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 18 Juli 1987 itu berhenti mendadak. Katanya, ia berharap di masa mendatang PBSI bisa lebih menghargai atlet yang sudah memberikan banyak prestasi untuk Indonesia. Owi sendiri pensiun dengan status pemain magang, dan label ini turut menentukan keputusannya untuk pensiun sebagai atlet.

"Alasan utamanya adalah ingin dekat dengan keluarga karena saat masih aktif jarang punya waktu untuk bersama. Kedua, sebenarnya ini bukan alasan atau apa, tapi sejak PBSI menetapkan saya sebagai atlet magang, saya sempat kaget juga dengan keputusan itu dan sebenarnya itu bukan masalah," kata Tontowi dalam konferensi pers di aplikasi Zoom, Senin (18/05).

Magang Sejak Desember 2019

PBSI menetapkan Owi sebagai pemain magang di pelatnas sejak Desember 2019. Tentu saja ia keberatan, sebab telah tampil dengan baik dan masih merupakan pemain nomor satu dunia. Prestasinya berlimpah.

“Tahun lalu, saya baru dicoba dengan satu pasangan (Winny Oktavina Kandow). Saya masih kompetitif dan bisa mengalahkan pasangan 10 besar dunia. Maksudnya, saya tidak sejelek itu untuk langsung dibuang,” ucapnya.

Owi/Winny melangkah hingga ke babak perempat final turnamen sebanyak tujuh kali. Tiga di antaranya terjadi di turnamen super 1000 seperti All England, Indonesia Open, dan China Open. Bahkan, keduanya pernah dua kali mengalahkan pasangan nomor lima dunia saat itu, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. 

"Sebelum Desember itu sudah ada plan dengan Apriyani Rahayu (partner baru) apa saja kejuaraannya, ternyata tiba-tiba begitu. Tapi sekali lagi ini bukan alasan saya pensiun. Saya hanya merasa sudah cukup dan ingin punya banyak waktu dengan keluarga.”

Kritik Owi Harus Jadi Pelajaran bagi PBSI

Owi memang tak meminta penjelasan langsung dari PBSI tentang statusnya sebagai pemain magang. Ia hanya berharap pendapatnya itu bisa jadi masukan buat PBSI.

Selain itu, Owi juga menampik bahwa ia kehilangan motivasi setelah ditinggal partner terbaiknya di lapangan, Liliyana Natsir, yang lebih dulu memutuskan pensiun. “Nggak juga. Setelah dia pensiun, saya masih main.”

Namun, menurut Owi, situasinya memang telah berubah. Ganda putra Indonesia nomor satu dunia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan juga berstatus pemain magang di Pelatnas PP PBSI, tetapi kata Owi, “Mungkin kalau saya di situasi mereka (Hendra/Ahsan) saya tetap main. Saat ini kan situasinya berbeda, kalau ci Butet masih main, saya juga tetap main. Dengan partner yang baru, saya harus mulai dari nol, cari visi-misinya juga sulit.”

“Saya juga sudah memikirkan matang-matang pensiun ini. Saya juga sering sharing dengan ci Butet. Dia pernah bilang, kalau pensiun saat prestasinya turun pasti akan dilupakan orang. Mumpung kamu masih di atas, jadi ya sekarang waktu yang tepat untuk pensiun.”

Dengan demikian, laga babak 16 besar Indonesia Masters 2020, Januari lalu, merupakan pertandingan terakhir Owi untuk Indonesia. “Kalau cuma masuk 16 besar, saya tidak mau. Saya ingin nomor satu,” katanya.

Sepanjang kariernya, Owi memang paling lama berpasangan dengan Liliyana Natsir. Medali emas Olimpiade Rio 2016, hattrick All England, dan dua kali juara dunia menjadi tiga prestasi tertinggi yang pernah diraih Tontowi/Liliyana. Tiga prestasi itu membuat Owi tidak menyesal memutuskan pensiun sekarang meski secara fisik merasa masih mampu bermain.

Pengamat: PBSI Harusnya Mengapresiasi Owi

Pengamat Bulu tangkis Broto Happy menyebut keputusan mundur Owi sudah tepat. Menurutnya, sang atlet sudah banyak meraih gelar bergengsi dan beberapa kali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Meski situasinya saat ini sulit, Owi akan tetap dikenang sebagai pemain besar.

“Pertama, kita hargai keputusan Owi yang akhirnya mundur sebagai pemain bulu tangkis. Sebagai pemain kan Owi sudah paripurna, berprestasi tinggi, mempersembahkan gelar-gelar terbaik untuk Indonesia,” kata Broto saat dihubungi Asumsi.co, Selasa (19/05).

Kedua, Broto menyebut kalau Owi sudah memutuskan mundur, erarti memang sudah saatnya mundur dan itu merupakan keputusan terbaiknya. Apalagi saat ini, lanjut Broto, sudah tak ada lagi target besar yang akan dikejar Owi, ditambah lagi beberapa waktu terakhir Owi sempat dipasangkan dengan sejumlah pemain muda, namun hasilnya kurang menggembirakan.

“Sepanjang tahun ini pun, sejak adanya pandemi COVID-19, turnamen juga nggak jelas kan sampai kapan berlangsung. Jadi tepatlah Owi mundur sekarang,” ujarnya.

Broto menilai, dari segi kemampuan individu, fisik, dan umur, sebetulnya Owi masih layak untuk bermain hingga dua tahun ke depan. Namun menurut Broto, yang jadi masalah adalah sulitnya mencari tandem untuk Owi di nomor ganda campuran. “Kalau Owi di tunggal putra, mungkin beda cerita. Tapi masalahnya kan nyari pemain putri untuk ganda campuran itu tidak mudah. Harus tangguh dan bisa padu dengan pemain putranya,” ujarnya.

Broto juga menyayangkan situasi pahit yang dialami Owi di ujung kariernya, yakni status pemain magang. Ia menilai tak semestinya Owi mengemban label tersebut, apalagi kalau melihat kontribusi besar yang sudah diberikan selama ini untuk nama baik bangsa dan negara.

“Tapi satu yang pasti, PBSI harusnya bisa sedikit menghargai perjuangan dan prestasi Owi selama ini sebagai pemain senior, dengan merebut medali emas Olimpiade Rio 2016, dua kali juara dunia, dan tiga kali juara All England.”

Gelar berlimpah dan status magang di Pelatnas PBSI, menurut Broto, merupakan kombinasi yang aneh.

“Harusnya bicarakan saja ke Owi ‘sebagai pemain pelatnas utama, kalau kamu sudah mulai senior, jumlah turnamen yang kamu ikuti tidak sebanyak seperti saat kamu masih berpasangan dengan Butet’. Harusnya seperti itu, dengan memberi apresiasi pada Owi yang punya segudang prestasi.”

Broto pun menegaskan situasi Owi tak bisa disamakan dengan situasi Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan, pasangan ganda putra yang juga dilabeli sebagai pemain magang. Menurut Broto, Hendra/Ahsan sudah sejak awal dipasangkan dan dalam waktu yang lumayan lama.

“Walau Hendra/Ahsan sempat pisah, tapi mereka bersatu lagi. Nah, saat berpasangan kembali, keduanya tetap padu seperti dulu. Hasilnya kini melejit lagi dengan prestasi.”

“Kalau Owi berstatus pemain magang, tapi tetap berpasangan dengan Butet, mungkin ceritanya akan beda dan secara psikologis situasinya akan sama seperti Hendra/Ahsan. Sebab, Owi/Butet bisa saja tetap bermain pada level tertinggi dengan modal chemistry yang sudah terbangun sejak lama, meski misalnya berlabel pemain magang di pelatnas.”

Meski begitu, Broto berharap sepeninggal Owi/Butet yang memutuskan pensiun, sektor ganda campuran harus cepat-cepat mencari regenerasi. Apalagi, Owi/Butet adalah pasangan ganda campuran terakhir yang pernah menduduki peringkat satu dunia.

“Minimal, setelah Owi/Butet pensiun, sekarang sudah ada penggantinya, yakni Praveen/Melati yang baru saja menjadi juara di All England, Minggu (15/03/20) lalu. Cuma problemnya mungkin bagaimana Richard Mainaky (pelatih) harus menciptakan pasangan ganda campuran yang lain, jangan hanya mengandalkan Praveen/Melati yang memang sudah terbukti berhasil menciptakan prestasi. Tapi bagaimana menciptakan pelapis-pelapis di sektor ganda campuran.”

Related Article