Tidak Ada Media yang Benar-Benar Netral

Salah satu hal paling menggelitik yang selalu berulang ketika membicarakan media adalah perihal netralitas. Media harus netral dan tidak berpihak, kata orang.

Entah mereka dengar dari mana, karena pada kenyataannya tidak ada media yang tidak punya keberpihakan. Paling sedikit media berpihak pada kepentingannya sendiri, entah itu kepentingan bisnis atau politik. Kredo bahwa media harus netral mungkin cuma dongeng di kelas Dasar-Dasar Jurnalistik, yang dulu jarang saya hadiri padahal dosennya cerdas. Tidak seperti dosen Pengantar Ilmu Komunikasi yang ngotot bahwa cogito ergo sum adalah ungkapan berbahasa Prancis hanya karena kebangsaan Descartes.

Netralitas acap kali menjadi sentra percakapan ketika pujian dialamatkan kepada Asumsi, terlebih menjelang Pemilu 2019. Program talkshow Asumsi, yang dengan narsisnya saya namakan “Pangeran, Mingguan” itu, menjadi buah bibir karena dianggap sebagai oase di tengah keringnya panggung diskursus politik yang netral di media.

Ketika hampir semua media lain, terlebih media-media mainstream, dianggap berpihak kepada salah satu calon, produk-produk Asumsi dianggap lebih netral karena tidak tendensius dan berat sebelah.

Jika netralitas didefinisikan sebagai penyediaan panggung diskusi yang level-playing field dan pemandu diskusi yang tidak memotong pernyataan narasumber secara prematur dan berlebihan, anggapan itu bisa saya terima. Bahkan saya berterimakasih jika publik mengapresiasinya.

Namun, jika yang dituntut dari media adalah netralitas dalam artian harus bebas nilai, ini jelas bermasalah dan kerap menciptakan salah pengertian.

Seperti sudah disinggung di atas, saya orang yang selalu mengernyitkan dahi ketika mendengar “netralitas media” didengungkan, terlebih oleh orang-orang sotoy. Tidak ada satu pun media di muka bumi ini yang netral. Tunjuk satu media yang mengklaim dirinya netral dan saya akan menunjukkan kepada anda media yang tidak jujur pada dirinya sendiri.

Lho, kalau media tidak netral, bagaimana dengan produk medianya? Bagaimana publik bisa percaya dengan karya media tersebut jika tidak ada netralitas?

Posisi media terhadap suatu isu seharusnya tidak mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Faktual dan akurat adalah syarat mutlak. Kebenaran fakta dan akurasi tidak bisa ditawar, dan ini sebenarnya yang menjadi fondasi kepercayaan audiens.

Namun, kebenaran faktual dan akurasi bukanlah satu-satunya pegangan audiens dalam mengonsumsi media, terlebih sekarang. Manusia, yang memiliki kemampuan intelektual, tidak pernah menjadi makhluk yang benar-benar bebas nilai. Kemampuan berpikir manusia membuatnya memandang segala sesuatu dari perspektif yang dibentuk oleh hasil buah pikirnya yang tentu saja subjektif. Ketika subjektivitas berperan bagi individu dalam mengonsumsi media, ia secara subjektif pula akan memilih media mana yang hendak ia lahap.

Kenapa, misalnya, hadirin sekalian memilih untuk menjadi audiens Asumsi di kala begitu banyak media massa di luar sana, dari yang begitu-begitu saja sampai yang hipster nan edgy? Tak lain tak bukan karena subjektivitas anda semua sebagai audiens mengatakan bahwa Asumsi adalah media yang selaras dengan perspektif anda. Perkara bahwa Asumsi menghasilkan produk media yang faktual dan akurat adalah sesuatu yang tak usah disinggung. Semua media juga seharusnya faktual dan akurat. Tapi ini menjelaskan kenapa anda gemar mengonsumsi satu media massa dan antipati kepada media lainnya.

“Ketidaknetralan,” atau tepatnya keberpihakan, media itu sebenarnya tercermin dari posisi dan pembingkaian yang diambil oleh media tersebut kepada isu-isu publik. Ini tidak ada urusan dengan benar dan salah karena, sekali lagi, kebenaran adalah sebuah variabel yang absolut dalam kerja media. Tapi sama seperti halnya audiens yang tidak bebas nilai, media pun memiliki nilai-nilainya tersendiri kepada semua isu.

Dalam berbagai forum diskusi, saya kerap kali menggunakan Tempo dan Republika sebagai contoh media-media nasional yang memiliki nilai dan perspektifnya sendiri. Keyakinan politik kedua media tersebut saya rasa bertolak belakang dan itu tercermin dari cara mereka memilih dan membingkai isu. Basis audiensnya pun rasanya berbeda jauh, yang satu cenderung lebih konservatif secara sosial dibanding yang lain. Namun hanya karena keduanya memiliki perspektif nilai sosial yang berbeda, bukan berarti yang satu lebih benar dari yang lain.

Rasanya harus disinggung juga bahwa dalam jurnalisme ada yang disebut dengan teori agenda-setting, di mana media massa dianggap memiliki pengaruh yang besar untuk menentukan apa yang seharusnya dipikirkan oleh audiens. Pemilihan topik dan isu yang diangkat adalah cerminan dari agenda media.

Apakah ini salah? Tentu tidak. Semua media memiliki pertimbangan sendiri-sendiri dalam menentukan agenda mereka. Dulu, pada masa pra-internet, ketika akses publik kepada media massa masih satu arah dan terbatas, media massa bisa melakukan agenda-setting yang absolut karena media sebagai gate-keeper arus informasi benar-benar menentukan apa yang penting untuk diketahui oleh publik melalui koran, radio, atau TV. 

Internet datang berbarengan dengan pilihan yang berlimpah serta akses yang luas bagi publik dalam memilih konsumsi medianya, maka kuasa agenda-setting yang dimiliki oleh media massa untuk menentukan mana yang penting dan tidak kian tergerus. Tapi untuk mengatakan bahwa media massa kehilangan peran agenda-setting di era internet sama sekali tidak benar karena media massa sebagai institusi penting dalam demokrasi tetap memiliki peran sebagai penjaga gerbang informasi. 

Nilai institusional, reputasi, dan rekam jejak yang dimiliki media massa membuatnya dipercaya publik. Belum lagi soal peraturan perundangan serta kode etik yang mengikat institusi media. Inilah mengapa, misalnya, di era kebebasan informasi sekarang ini, media massa menjadi sumber informasi yang relatif lebih terpercaya dibandingkan dengan individu-individu tanpa akuntabilitas.

Lalu, sekarang anda pasti bertanya, usai sedikit penjabaran di atas, di mana keberpihakan Asumsi sebagai media dan peran gate-keeper informasi seperti apa yang kami jalankan?

Saya bisa saja menjawab pertanyaan tersebut dengan rangkaian paragraf lainnya, tapi rasanya anda sendiri, sebagai audiens Asumsi, yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Nilai-nilai yang kami anut dan keberpihakan kami pada isu-isu publik mudah-mudahan tercermin dari produk-produk media yang kami hasilkan. Agenda yang sedang kami jalankan semoga terlihat dari pilihan-pilihan isu yang kami bicarakan.

Saya percaya bahwa salah satu prasyarat mutlak negara demokrasi yang ideal adalah masyarakat yang terinformasi dengan baik. Pilihan ada di tangan rakyat, namun rakyat harus tercerahkan dan memiliki modal informasi yang cukup untuk menentukan pilihan. Mudah-mudahan yang kami lakukan dalam 2 tahun terakhir sedikit membantu.

Terima kasih telah menjadi pembaca/penonton/audiens Asumsi.

Panjang umur Republik Indonesia.

 

*Tulisan ini tayang pertama kali di newsletter Asumsi, 5.45

Related Article