Tarbiyah: Kaderisasi Terbaik Partai Politik di Level Kampus

Muliawati (bukan nama sebenarnya) masih duduk di tahun pertama bangku kuliah ketika ia pertama kali diperkenalkan kepada gerakan tarbiyah di kampusnya, Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Awalnya Wati yang menjadi mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) pada awal 2000an, tertarik bergabung dengan gerakan tarbiyah karena ingin mendalami ilmu agama Islam. Namun apa yang ia temui, ketika sudah terjun ke dalamnya, tidak seperti yang ia harapkan.

“Baru setelah beberapa tahun mulai aktif di situ, saya akhirnya tahu bahwa organisasi itu terafiliasi dengan partai politik,” kata Wati kepada Asumsi beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya partai politik apa, ia menjawab, “Kebetulan Partai Keadilan (PK) dulu namanya. Kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)”.

Kartu Kuning untuk Jokowi dari Zaadit

Keterlibatan partai politik dalam gerakan tarbiyah bisa dibilang telah menjadi rahasia umum, tapi sejauh ini belum ada yang mengakuinya. Isu ini belakangan mengemuka saat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa meniup pluit dan melayangkan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat orang nomor satu di republik ini memberikan pidato di acara Dies Natalis ke-68 UI di Depok, Jawa Barat, pada Februari silam.

Zaadit langsung diamankan oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) dan dimintai keterangan. Belakangan, ia beserta perwakilan BEM UI lainnya menggelar konferensi pers menjelaskan aksinya tersebut.

“Kalau di pertandingan sepak bola, kartu kuning itu sebagai peringatan untuk pemain untuk lebih berhati-hati menjaga dirinya,” kata Zaadit. Ia mengatakan, dirinya mewakili mahasiswa ingin mengingatkan Jokowi bahwa masih banyak tugas-tugas kepresidenan yang belum selesai dan harus dikerjakan. Tiga di antaranya:

  1. Kasus gizi buruk di Asmat, Papua, yang menelan puluhan korban anak-anak
  2. Wacana pengangkatan pejabat gubernur dari kalangan Polri aktif
  3. Menolak draf Peraturan Menteri Pendidikan dan Perguruan Tinggi (Permendikti) tentang organisasi mahasiswa yang dinilai akan mengekang dan membatasi pergerakan mahasiswa.

Aksi Zaadit pun dikritisi, selain karena dianggap tidak sopan, juga karena latar belakangnya yang diduga berkaitan dengan partai politik, yaitu PKS yang menjadi oposisi pemerintahan Jokowi.

Mengapa demikian? Latar belakang Zaadit dikulik netizen karena biasanya anggota, bahkan ketua, BEM UI berasal dari kalangan tarbiyah, yang memiliki afiliasi dengan PKS yang dikenal cukup vokal mengkritisi kebijakan pemerintah saat ini.

Namun Zaadit membantahnya. “Penegasan bahwa [saya] bukan kader PKS, enggak ada hubungannya dengan PKS dan aksi ini pure mahasiswa yang bikin,” katanya kepada media

Gerakan Tarbiyah di Kampus-kampus

Jamaah salat Jumat di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Foto: Asumsi

Menurut majalah Suara Mahasiswa edisi 25/XVI/2009, gerakan tarbiyah di Indonesia pada awalnya diilhami oleh gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Saat ini, gerakan ini sudah menempelkan jaring-jaring di setiap sudut pengajian masjid di kampus-kampus besar Tanah Air.

Tarbiyah, yang memiliki makna harafiah pendidikan, dibawa ke Indonesia oleh mahasiswa yang pulang setelah kuliah di negeri-negeri di jazirah Arab dengan tujuan untuk menyebarkan semangat beragama untuk mencegah sekularisasi yang berkembang pada tahun 1980an. 

Beberapa kampus besar seperti UI, ITB, Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi pusat munculnya lembaga dakwah kampus (LDK). Di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, gerakan tarbiyah merepresentasikan dirinya dengan beragam nama organisasi keagamaan yang menjadi salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM). 

Sebelum masa reformasi, organisasi tarbiyah masih berbentuk kelembagaan non-formal yang diajarkan melalui pengajian yang bersifat apolitis, yang berisi kajian dan pembinaan keagamaan yang dilakukan sehari-hari. Baru pada 2001, gerakan tarbiyah untuk pertama kalinya dideklarasikan secara langsung.

Kini, gerakan tarbiyah di kampus-kampus sudah jauh lebih maju dan dilaksanakan secara terencana. 

Anggota Tarbiyah Dalam BEM?

Raihan Abiyan adalah mantan Ketua BEM Fakultas Ilmu dan Budaya (FIB) UI periode 2014. Ia dianggap “cukup sukses” mendobrak tradisi tarbiyah dalam badan BEM di kampus kuning. 

“Biasanya yang mau maju [sebagai ketua BEM], ya tarbiyah. Karena yang non-tarbiyah berpikir, ‘Ngapain nge-BEM?’ Capek-capekin aja,” kata Raihan.

Akibatnya, menurut Raihan, banyak mahasiswa non-tarbiyah yang enggan untuk mengikuti pemilihan ketua BEM. “Udah enggak mau tarung karena pasti bakal kalah,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengakui bahwa gerakan tarbiyah memang baik untuk spiritualitas individu, namun yang terjadi malah dijadikan program pra-kaderisasi partai politik di kampus.

“Tarbiyah itu bagus secara keagamaan, baik buat nemenin temen-temen kita yang butuh edukasi agama lebih,” katanya.

“Cuma ketika selama proses edukasi itu dia punya potensi, dia akan digunakan menjadi pion-pion, menjadi corong-corong berikutnya. Corong-corong berbicara, corong-corong aspirasi, corong-corong pemikiran, bisa politik atau non-politik.”

Hal tersebut juga diakui oleh Muliawati, alumni F-MIPA ITB. 

“Saya tidak tahu persisnya tahap per tahap, tapi saya tahu pasti, ya ujungnya itu untuk jadi seperti bagian dari kaderisasinya PKS,” katanya.

Pola Rekrutmen Anggota Tarbiyah

Pengamat politik dari Cyrus Network, Hasan Nasbi, saat diwawancarai di kantornya di Jakarta. Foto: Asumsi

Sebagai mahasiswa baru dalam lingkungan lembaga dakwah kampus (LDK), Muliawati mendapatkan bimbingan dari seniornya di kampus. Dari sanalah ia mulai merasakan kenyamanan yang didapatkan, sebuah tempat bagaikan oase yang memberikan ketenangan di antar hiruk pikuk kehidupan luar.

“Dari situ kita dikenalkan dengan kakak-kakak, teteh-teteh, aa’-aa’ yang ramah-ramah. Kita merasa feel like home dan welcomed, seperti menggambarkan nyaman dengan teteh-teteh yang Islami ini,” kata Wati.

Pernyataan Wati diamini oleh pengamat politik dari Cyrus Network, Hasan Nasbi. 

Ia mengatakan, ketika menjadi mahasiswa baru pada 1980an dulu, ia juga mendapat rasa nyaman dari para senior yang tergabung dalam gerakan tarbiyah.

“Cara masuknya bener-bener surga buat kita. Di zaman kita, ketika kita diospek, waktu yang dinantikan adalah waktu salat. Kebetulan yang menjadi panitia ospek itu berbeda dari kelompok tarbiyah. Jadi waktu yang ditunggu-ditunggu, waktu tanpa bentakan, tanpa kegiatan fisik. Itu waktu salat, istirahat, makan. Sekitar tiga kali sehari, waktu salat dzuhur, ashar, maghrib,” ucap Hasan yang sempat ikut pengajian tarbiyah tapi tidak menjadi anggota.

Yang menjadi daya tarik baginya adalah tempat sejuk yang disediakan bagi mahasiswa baru di luar keganasan senior kampus.

“Ketika kita panas-panasan di luar oleh senior yang tampangnya galak-galak, di dalam disambut oleh senior-senior yang tampangnya teduh, adem, cerah, bersih. Mereka menyapa kita dengan lemah lembut, ngasih brosur. ‘Eh nanti kalau sudah mulai kuliah, ikut pengajian ini ya,’” ujar Hasan menirukan ucapan seniornya kala itu.

Membimbing Melalui Liqo dan Murabbi

Saat si mahasiswa baru sudah bergabung dalam organisasi, Hasan menyebutkan, biasanya mereka akan mengikuti pengajian rutin yang disebut liqo

“Ketika kita liqo, itu pengajian isinya soal agama,” kata Hasan. Para senior sekitar 2-3 angkatan di atas lah yang memberikan materi.

Para senior ini yang disebut sebagai murabbi, atau mentor (pembimbing). 

“Kita harus punya murabbi, jadi itu udah lebih khusus pengajiannya, bukan lagi liqo yang umum di pelataran masjid,” katanya. 

Menurutnya, para anggota tarbiyah baru ini akan diberi bacaan politik, di luar ilmu keagamaan.

“Kita disuguhi bacaan, bacaan politik. Bacaan politiknya apa saat itu? [Majalah] Sabili,” kata Hasan merujuk pada majalah bulanan seputar Islam dan politik yang terbit sejak 1992 lalu itu.

Selain Sabili, ia menyebut juga ada majalah-majalah tarbiyah lain untuk mengisi keimanan, keagamaan, dan spiritualitas.

Dari bacaan-bacaan ini pula, pada waktu pengajian diselipkan momen-momen politik. Misal, pada saat pemilihan ketua BEM di kampus, akan diadakan diskusi bagaimana arah organisasi untuk menyukseskan kadernya yang berlaga. 

“Iya, komando searah. Itu enggak boleh dipertanyakan,” ucap Hasan. “Yang ikut pengajian itu pilihannya harus sama. Mereka diwajibkan untuk mengajak orang untuk kemudian memilih pilihan yang sama.”

Ketika ditanya siapa yang memberikan arahan, Hasan menjawab, ada komando searah dari pusat yang dilakukan berjenjang ke level-level di bawahnya.

“Berjenjang. Mereka kan punya penanggung jawab level kota. Ada penanggung jawab level provinsinya,” kata Hasan.

“Nah, dia membawahi kampus-kampus. Itu pesan-pesan politik dari atas harus sampai ke tingkat bawah akar-akar rumput mereka. Akar rumput itu apa? Ya, kampus-kampus.”

Simak video Asumsi special report "Tarbiyah: Kaderisasi Terbaik Partai Politik di Level Kampus" di sini!

 

Dengan laporan Haifa Inayah dan Jessica Wowor

Related Article