Simon McMenemy Latih Timnas Indonesia, Gantikan Bima Sakti

Sepak bola Indonesia masih belum benar-benar membaik. Masih banyak tudingan miring seperti pengaturan skor yang dilayangkan ke sepak bola Indonesia. Salah satu titik terrendah dalam beberapa tahun terakhir di  antara kalangan penikmat sepak bola tanah air adalah ketika di akhir bulan November 2018 yang lalu, Indonesia gagal total di perhelatan akbar Piala AFF 2018. Titik tersebut menjadi pemicu awal dari naik pitamnya para penikmat sepak bola Indonesia. Keputusan pun dibuat, salah satunya adalah menghentikan Bima Sakti dari jabatannya sebagai pelatih timnas senior Indonesia. Kemudian PSSI pun memutuskan untuk mengganti dengan mantan pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy, asal Skotlandia.

Bima Pindah ke U-16 Setelah Gagal Total di Piala AFF 2018

Masuknya McMenemy tentu membuat Bima Sakti harus meninggalkan posisinya. Meski begitu, ternyata Bima tidak dibiarkan hengkang begitu saja oleh PSSI. Bima Sakti ditetapkan sebagai pelatih timnas Indonesia U-16 untuk setidaknya setahun ke depan per tanggal 20 Desember 2018.

Alasan Bima Sakti harus dipecat dari posisi pelatih timnas senior nampaknya jelas. Ketika menggantikan posisi Luis Milla, publik berharap banyak Bima – yang sebelumnya menjadi asisten pelatih Luis Milla – dapat mengemulasi kemampuan Milla yang dianggap gemilang karena telah berhasil membawa Indonesia lolos grup Asian Games 2018. Hasilnya? Berbanding terbalik dari yang diharapkan. Untuk lolos grup Piala AFF 2018 saja Indonesia tidak mampu.

McMenemy Ditunjuk Latih Timnas

Mengetahui bahwa perjalanan timnas senior tahun depan akan berat karena harus menghadapi kualifikasi Piala Asia, PSSI pun tak mau main-main. PSSI menunjuk McMenemy sebagai pelatih kepala timnas Indonesia senior. McMenemy ini bukan lah nama asing di sepak bola Indonesia. Lahir di Skotlandia pada tahun 1977, McMenemy mulai malang melintang di Indonesia semenjak melatih Mitra Kukar di tahun 2011-2012. Kemudian, sempat berganti beberapa kali klub, McMenemy pun melatih Bhayangkara FC untuk dua musim terakhir Liga 1 Indonesia, yaitu musim 2017 dan 2018. DI musim 2017, McMenemy berhasil membawa Bhayangkara FC juara Liga 1. Kemampuannya membawa trofi untuk Bhayangkara FC pun nampaknya menjadi alasan utama mengapa PSSi merekrutnya.

Selain di Indonesia, McMenemy memulai karirnya melatih timnas senior Filipina di tahun 2010. Meski hanya menempati peringkat ketiga di Piala AFF 2010, kemenangan Filipina melawan Vietnam di fase grup Piala AFF 2010 cukup membuat pertandingan tersebut masuk ke dalam 10 cerita sepak bola terbaik di tahun 2010 versi majalan Sports Illustrated. Sempat melatih tim Vietnam, Đồng Tâm Long An, baru lah McMenemy pindah ke Mitra Kukar, sekaligus memulai perjalanan sepak bolanya di Indonesia.

Mendingan Pelatih Asing atau Lokal untuk Timnas Indonesia?

Berbicara tentang perdebatan pelatih asing atau pelatih lokal untuk timnas Indonesia, sebenarnya keduda formulanya sudah sering dicoba. Meski begitu, baik pelatih asing atau pelatih lokal, hasilnya tidak tentu. Ada pelatih asing seperti Luis Milla atau Alfred Riedl yang dianggap memiliki permainan atraktif dan didukung oleh banyak suporter sepak bola Indonesia. Meski begitu, ada nama besar seperti Wim Rijsbergen atau Luis Manuel Blanco yang tidak memberikan banyak kenangan indah bersama timnas sepak bola Indonesia.

Begitu pun sebaliknya. Bima Sakti mungkin baru saja menutup kenangan pahitnya bersama Indonesia. Sebagai pelatih lokal yang melatih timnas kebanggaan negaranya, Bima tidak dapat berbuat banyak.  Di sisi lain, ada nama Endang Witarsa yang pernah memenangi beberapa turnamen invitational ketika menukangi timnas senior Indonesia, atau Sinyo Aliandoe, yang di tahun 1986 pernah berhasil membawa Indonesia hampir bermain di Piala Dunia Meksiko 1986. Kala itu, Sinyo tinggal harus mengalahkan Korea Selatan di babak penentuan. Sayang, timnas senior Indonesia dibabat habis 1-6.

Sebenarnya, dalam urusan kepelatihan timnas senior Indonesia, yang terpenting bukan asing atau lokal. Ketika duduk di kursi timnas senior Indonesia, seorang pelatih harus berani tegas dalam mengambil keputusan. Ketegasan ini pun tidak hanya pada pemain-pemainnya di lapangan, tetapi juga kepada federasi yang telah memilih orang tersebut sebagai pemimpin timnas senior Indonesia di lapangan.

Dari sudut pandang yang lain, Akbar Nawas dari Singapura pernah diwawancarai oleh FourFourTwo di tahun 2017 terkait isu pelatih lokal atau pelatih asing. Sebagai seseorang yang saat itu menjadi pelatih kepala di Global FC Filipina, ia merasa bahwa tidak ada pilihan yang salah atau benar. "Tentu saja, tidak ada pilihan yang benar atau salah dan seringkali pelatih asing yang berpengalaman bisa saja gagal dalam situasi di mana mereka diharapkan akan sukses atau justru sebaliknya saat seseorang pelatih lokal tak dikenal dan tanpa pengalaman bisa berhasil dengan cepat dan memenangi banyak gelar," pungkas Akbar, bulan Agustus 2017 yang lalu.

Pandangan yang berbeda diutarakan oleh Steve Darby. Pelatih asal Inggris ini sudah malang melintang di kawasan Asia Tenggara. Ketika diwawancarai oleh FourFourTwo di tahun 2017,  ia mengatakan kalau pemain lebih memilih pelatih asing, dengan alasan kenyamanan. "Para pemain seringkali tahu bahwa pelatih asing akan lebih sedikit dipengaruhi hierarki dalam klub dan tim akan dipilih berdasarkan kebutuhan, bukan karena anda adalah keponakan seseorang," ucapnya. Ia pun melanjutkan, "pelatih asing bisa datang dan lebih objektif dan netral dan memilih tim berdasarkan kemampuan dan mereka tahu jika segalanya berjalan dengan baik, mereka bisa pergi dan melanjutkan hidupnya."

Related Article