Pencari Suaka Hanya Mengharapkan Hak Asasi Manusia

Memandang kondisi para pencari suaka perlu berangkat dari nilai-nilai kemanusiaan. Terlepas dari statusnya sebagai pencari suaka, seorang pengungsi tetaplah memiliki hak asasi yang perlu dijunjung tinggi. Sebagai negara yang meratifikasi konvensi Jenewa 1951, Indonesia berkewajiban untuk memastikan bahwa hak-hak asasi manusia para pencari suaka tetap terjamin. Pandangan inilah yang mendorong penyelenggaraan acara-acara seperti Refugee Awareness Day.

Zico Pestalozzi, penasihat hukum dari organisasi Suaka yang turut meramaikan acara Refugee Awareness Day, menuturkan bahwa acara seperti ini amat signifikan. Ia merasa semenjak tahun 2017, narasi negara-negara maju cenderung tidak ramah kepada para pencari suaka. Acara ini dianggapnya dapat kembali memberikan titik cerah kepada mereka. Terlebih, acara ini diselenggarakan oleh Institut Prancis di Jakarta yang merupakan perwakilan resmi Prancis di Indonesia.

Kondisi para pencari suaka begitu rentan sebab Indonesia, yang merupakan negara transit, enggan memberikan proteksi penuh kepada pengungsi. Padahal, jika diberikan kesempatan, Zico meyakini bahwa para pengungsi ini dapat berkontribusi banyak untuk masyarakat Indonesia.

“Mereka itu kalau dikasih kesempatan berkontribusi, ya, ada yang punya keahlian memasak, seni, dan segala macam,” ujar Zico, ketika ditemui Asumsi.co pada Refugee Awareness Day, Kamis (20/6). “Banyak juga pengungsi yang dokter, pengacara, arsitek, bahkan profesor-profesor ada juga yang jadi pengungsi di Indonesia."

“Kami menyediakan bantuan hukum ketika pengungsi berhadapan dengan hukum, baik yang berkaitan dengan refugee status determination process, juga baik kasus pidana maupun perdata,” kata Zico.

Dalam advokasinya, Suaka juga memperjuangkan hak-hak lain pengungsi, seperti hak pendidikan dan kehidupan yang layak. Zico yakin sebenarnya Indonesia mampu memperlakukan pengungsi jauh lebih baik ketimbang saat ini. “Kami mengadvokasi pemangku kebijakan di Indonesia, untuk mencoba melihat solusinya bagaimana supaya pengungsi dan pencari suaka ini bisa dihormati hak asasi manusianya di Indonesia,” ujar Zico.

Para pengungsi yang membutuhkan bantuan hukum dapat menghubungi Suaka melalui berbagai kanal: media sosial, website, dan surat elektronik. 

Dalam membantu memberikan penghidupan yang layak bagi para pengungsi, Zico meyakini pentingnya peran anak muda. Ia berharap banyak anak muda menggunakan kanal-kanal organisasi seperti Suaka sebagai langkah untuk memahami kondisi para pencari suaka yang sebenarnya.

“Cobalah mencari tahu sebelum menilai,” kata Zico.

Elina: Masuk ke Indonesia Menggunakan Visa Liburan

Tidak hanya berbicara dengan penasihat hukum Suaka, Asumsi.co juga berkesempatan mewawancarai seorang pengungsi asal Sudan bernama Elina yang sudah tinggal di Indonesia selama hampir dua tahun. Saat ini, ia bekerja secara sukarela sebagai partnership developer and advocates for refugees issues di Roshan Learning Center, sebuah pusat belajar bagi anak-anak pengungsi di Indonesia. Di negara asalnya, ia merupakan seorang dokter gigi yang sudah bekerja selama sembilan tahun. Ketika mengetahui dirinya terancam, Elina memutuskan untuk singgah di Indonesia sebagai pencari suaka sembari menunggu kepastian negara mana yang akan menerima dirinya.

“Saya tiba di sini menggunakan visa liburan,” ujar Elina.

Setelah visa itu kedaluwarsa, ia langsung mendaftarkan diri ke UNHCR sebagai seorang pencari suaka.

Ia bergabung dengan Roshan karena rekomendasi seorang teman. Kemampuan Bahasa Inggris Elina yang baik membuat dia disarankan untuk mengajar di sana. Ia mengatakan bahwa Roshan didirikan untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan anak-anak pengungsi yang belum terpenuhi di Indonesia. Pusat belajar yang sudah berdiri sejak 2014 ini merupakan inisiatif beberapa orang asal Amerika Serikat yang berhubungan dengan para pencari suaka.

Ketika berdiri Roshan hanya menampung 20 murid, dan kini sudah beranggotakan 160 orang, dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) hingga sekolah tinggi. Setiap anak pengungsi yang menyelesaikan sekolah di Roshan mendapatkan sertifikat General Educational Diploma, setara dengan level diploma sekolah tinggi di Amerika Serikat. Pendidikan nonformal ini didanai oleh Selandia Baru dengan harapan anak-anak pengungsi ini dapat memiliki sertifikat pendidikan ketika sampai di negara tujuan.

Sejauh ini, interaksi para pengungsi cenderung lebih banyak dengan masyarakat Indonesia. Sedangkan dengan pihak pemerintah Indonesia, aktivitas masih jarang dilakukan. "Agak sulit untuk berinteraksi langsung dengan pemerintah Indonesia karena bagi pemerintah kami ini terlalu kecil,” kata Elina.

Salah satu interaksi tersebut seperti melaksanakan buka puasa bersama dengan lingkungan sekitar tempat tinggal para pengungsi. Menurut Elina, orang Indonesia cenderung ramah kepada para pengungsi. Meski begitu, masih banyak yang belum memahami kondisi pengungsi secara menyeluruh.

Menurut Elina, pemerintah Indonesia perlu mendengar suara para pengungsi. Ia berharap narasi negatif yang ditujukan kepada pengungsi dapat segera terhapuskan.

“Kami berharap bahwa mereka mendengar kami, kami di sini tidak untuk mengambil alih sesuatu, atau mengambil sesuatu dari seseorang. Kami di sini, kami berharap dapat bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah Indonesia. Kami bukan orang jahat,” ujar Elina. Ia pun melanjutkan, “hanya karena satu orang buruk, kalian memilih untuk memperlakukan 14 ribu orang lainnya sebagai orang buruk. Itu tidak adil. Dengarkan kami. Mungkin kami punya gagasan untuk bekerja sama. Kami tidak lebih tinggi, tetapi kami juga tidak lebih rendah.”

Related Article