Pariwisata Terpukul Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 jelas berdampak besar terhadap industri pariwisata dan perhotelan. Jangankan berwisata, kini sekadar meninggalkan rumah jadi urusan yang berbahaya. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan hal ini mengakibatkan banyak hotel yang ditutup sementara. 

Hal ini dikonfirmasi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani.

"Jadi, masalahnya kan virus itu sendiri, kalau tidak bisa dikendalikan kita tidak bisa apa-apa. Sekarang hotel yang sudah lapor tutup saja 698, lalu di industri lain juga banyak mengeluh karena rame batal order, mal sepi, dan lain sebagainya," kata Hariyadi pada Rabu (1/4) seperti dilansir Tempo.

Di Bangka Belitung, pandemi COVID-19 menyebabkan 30 hotel dan 13 restoran gulung tikar. Menyusul hal ini, 1.775 pekerja telah dirumahkan.

Menurut Hariyadi, kuartal ke-II tahun ini akan menjadi hal yang sangat berat karena menjadi puncak tekanan pada industri. Ia menyayangkan koordinasi pemerintah yang masih belum kompak dalam penanganan COVID-19.

Banyak masalah seperti fasilitas kesehatan tidak memadai dan tidak ada penegasan kebijakan untuk memutus rantai penyebaran pandi yang harus segera diselesaikan.

Bukan hanya di Indonesia, pengaruh pandemi COVID-19 pada kerugian juga terjadi di berbagai negara yang menitikberatkan penghasilannya di sektor pariwisata. “Jika [pemasukan] hotel turun, semuanya akan ikut turun,” kata Olga Murillo, seorang pemilik hotel di Kosta Rika kepada The Guardian.

Bulan lalu, penurunan di sektor pariwisata Inggris juga telah menyebabkan penurunan di kota-kota besar seperti Birmingham atau Manchester. Hal ini juga mendorong asosiasi pariwisata UK Hospitality memperingatkan pemerintah perlu bertindak cepat untuk menangani sektor bisnis yang kemungkinan akan terdampak dan segera menerapkan kebijakan untuk mengatasinya.

Related Article