Mereka Bilang Saya Tua

Partner saya memasuki usia empat puluh satu tahun hari ini. Belakangan, ia beberapa kali menyebutkan angka tersebut dalam obrolan, misalnya, “Gw udah empat puluh, Nicky. Udah gak sama seperti dulu lagi.” Saya sering pula mendengar ungkapan bernada serupa, terutama setelah memberikan ucapan selamat kepada anggota keluarga atau teman yang berulang tahun. “Duh, udah tua ya gw,” “Jangan diingetin, ah, jadi nyadar udah kepala lima, deh,” “Udah umur segini, gak usah heboh ngerayain ultahlah,” dan lain-lain yang menyiratkan kekhawatiran tentang usia. Ternyata, bagi sebagian orang, hari yang membahagiakan itu juga menjadi hari yang penuh kegelisahan. Gelisah karena umur yang bertambah, khawatir menjadi tua. Saya bertanya-tanya, apa, sih, yang salah dari menua? Mengapa orang takut menjadi tua? 

Tubuh Tua yang Penuh Wacana

Sebagian besar orang menolak menjadi tua. Ada yang terang-terangan menyatakan, ada pula yang malu-malu. Simone de Beauvoir dalam The Coming of Age (1996) menulis, “Masyarakat menganggap usia tua semacam rahasia memalukan yang tidak pantas disebutkan.” Rasa malu muncul karena representasi tradisional yang memisahkan, dan selalu membandingkan, usia tua dengan muda. Kemudaan yang ditampilkan melalui tubuh awet muda adalah baik, sedangkan usia tua yang digambarkan dengan tubuh yang menua adalah buruk. 

Tidak percaya? Coba saja tengok iklan pelembab wajah di televisi. Wajah perempuan yang muram dengan kerutan di bagian dahi, sudut mata, dan pipi menjadi berseri-seri setelah kerutannya hilang. Iklan ditutup dengan jargon “tampil lima kali lebih muda dengan produk bla bla bla.” Saya penasaran kira-kira seperti apa, ya, tampilan wajah lebih muda yang dikalikan dua, tiga, empat, sampai lima? Bukan hanya bagi perempuan, iklan produk-produk perawatan untuk laki-laki juga menggunakan resep serupa. Pesan bahwa muda itu gembira dan tua itu sengsara adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita, beredar dalam berbagai pendekatan (horor atau humor), format (teks, audio, maupun audiovisual), dan media (analog maupun digital). Jadi, jangan heran kalau melihat orang resah ketika ia dikatakan tua dan semringah ketika dikatakan awet muda. 

Dalam Language and Symbolic Power (1991)Pierre Bourdieu mengatakan bahwa hidup manusia, termasuk tubuhnya, adalah medan wacana, di mana pemilik kuasa bertarung untuk menduduki posisi dominan. Dan menurut Norman Fairclough dalam Discourse and Social Change (1992), wacana dibangun untuk membentuk pemahaman yang terstandar dalam benak individu. Tidak berhenti sampai di situ, wacana perlu direproduksi dan disampaikan secara simultan untuk memastikan pemahaman tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Wacana beroperasi dalam senyap sehingga keberadaannya seringkali tidak disadari. Ia bahkan menyusup ke dalam obrolan-obrolan santai di kafe hingga di atas ranjang. Wacana disisipkan dalam keseharian kita, dibiasakan hingga terasa wajar, dan dikukuhkan sampai kita merasa tidak perlu mempertanyakannya. Salah satu contohnya: “Wajar jika kita takut tua.” Masa, sih?

Takut (Setengah) Mati karena Mitos Penuaan

Wacana dominan terkait tubuh yang menua adalah kemunduran. Tubuh yang menua adalah simbol kemunduran dan karenanya ia tidak pernah menjadi sumber kebanggaan. Orang-orang renta diidentikan dengan kondisi fisik yang lemah, daya ingat yang menurun, performa seksual yang buruk, serta penampilan yang tidak menarik lagi. Meskipun kondisi biologis orang yang berusia tua dapat diperiksa secara medis dan hasilnya belum tentu buruk, wacana atas tubuh yang menua sudah kepalang dikonstruksi dan direproduksi. Hasilnya, masyarakat telah mengamini kemudaan sebagai standar tubuh ideal sehingga tubuh yang menua dipandang tidak memenuhi standar dan menyimpang dari norma. 

Pandangan bahwa tubuh yang menua merupakan penyimpangan sosial menuntut manusia untuk mendisiplinkan tubuhnya. Dalam The Birth of Biopolitics (2010), Michel Foucault memandang disiplin tubuh sebagai usaha menguasai tubuh subyek agar menjadi individu yang berguna bagi dirinya dan lingkungan sosialnya. Menariknya, manusia tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan praktik-praktik pengontrolan atas tubuhnya sendiri. Inilah bukti keberhasilan wacana dominan tentang tubuh manusia. Diet, olahraga, dan operasi plastik adalah beberapa contoh upaya pendisiplinan tubuh. Pernahkah kita bertanya mengapa kita merasa perlu berolahraga di pagi hari atau mengapa kita tidak keberatan meminum jus detoks selama sehari penuh? Jika jawabannya demi kesehatan, tanyakan lagi kepada diri kita: kesehatan untuk siapa dan menurut standar yang mana?

Mike Featherstone dalam Images of Aging (1995) menganalogikan tubuh manusia sebagai mesin. “Seperti mobil dan barang-barang lainnya, tubuh memerlukan perbaikan, perawatan rutin, dan perhatian untuk mempertahankan efisiensi dan performa yang optimal,” tulisnya. Oleh karena itu, tubuh yang menua dianggap perlu diperbaiki, dirawat, dan dipelihara sedemikian rupa agar senantiasa sesuai standar dan diterima secara sosial. Jika ada orang tua yang tidak merawat diri, ia akan dianggap ceroboh, tidak berguna, dan direndahkan dalam lingkungan sosial. 

Wacana kemunduran mengaitkan tubuh yang menua dengan ketergantungan. Dengan berbagai bentuk kemunduran fisiknya, orang yang sudah tua dianggap tidak mampu menjalani hidup secara mandiri. Ditambah lagi dengan kondisi tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan sendiri setelah pensiun. Wacana kemunduran biologis dan finansial ini memosisikan tubuh yang menua sebagai tubuh yang tidak berdaya sehingga membutuhkan bantuan pihak lain. 

Tidak heran jika kemudian kita merasa takut hidup sendiri di hari tua. Kita khawatir tidak ada yang menemani dan merawat tubuh renta yang katanya tidak berdaya itu. Menjadi semakin menakutkan ketika kita membayangkan diri kita mati dalam kesendirian. Kita seringkali lupa bahwa kematian berbeda dengan arisan, tidak perlu beramai-ramai atau mengajak-ajak orang lain.

Menua atau Berimajinasi Menjadi Tua?

Kita enggan membayangkan diri menua, padahal, kita tahu bahwa pada akhirnya segala sesuatu akan menjadi tua. Siklus kehidupan berlangsung dari kelahiran hingga kematian, dan menjadi tua termasuk di dalamnya.

Mungkin kita berpikir bahwa orang-orang yang "sudah berumur" lebih gampang membayangkan diri menjadi tua dibandingkan anak-anak muda. Misalnya, seseorang yang berusia lima puluh tahun lebih bisa memproyeksikan diri berumur tujuh puluh tahun karena ia lebih dekat dengan usia tersebut dibandingkan dengan seseorang berusia dua puluh tahun. Nyatanya tidak demikian. Kesulitan membayangkan diri kita menjadi tua terjadi sepanjang usia. Apa yang kita takutkan? Menua atau membayangkan diri kita menjadi tua?

Ketakutan menjadi tua bisa pula didekati lewat sudut pandang rezim usia (ageism) yang dikemukakan oleh Robert Butler, ahli gerontologi Amerika yang meneliti tentang diskriminasi terhadap warga senior pasca Perang Dunia II. Rezim usia menempatkan masyarakat modern pada sistem usia. Mereka yang dikategorikan renta secara sistematis diperlakukan berbeda dalam masyarakat. Misal, dengan mendahulukan lansia untuk duduk di dalam transportasi umum atau membantu lansia menyeberang jalan. Terlepas dari ajaran moral dan toleransi sosial, perlakuan tersebut justru mempertegas stereotip orang tua sebagai individu yang tidak berdaya.

Masyarakat rezim usia jugalah yang terus-menerus mengaitkan menjadi tua dengan penurunan kondisi fisik. Kita hidup dalam budaya yang memuja kemudaan. Masyarakat memberikan nilai tinggi pada standar kesehatan dan daya tarik seksual yang mengacu usia muda. Tak mengherankan jika kemudian orang tidak ingin dikaitkan dengan kondisi sebaliknya, yaitu penuaan. Orang takut menjadi tua karena mereka tidak ingin menempatkan diri dalam kategori yang dinilai rendah dan tidak diakui sebagai standar oleh masyarakat kebanyakan. 

Banyak orang berpikir bahwa orang tua sangat berbeda dari diri mereka sendiri, sehingga muncul anggapan bahwa menjadi tua berarti juga kehilangan jati diri. Inilah yang disebut Mike Featherstone dalam The Body: Social Process and Cultural Theory (1991) sebagai topeng penuaan (the mask of aging), yaitu kondisi saat seseorang di usia paruh baya bercermin dan merasa seolah-olah wajahnya diselubungi topeng orang tua. Bersamaan dengan munculnya topeng tersebut, otak memanggil ingatan yang berkaitan dengan menjadi tua. Sayangnya, sebagian besar ingatan kita diisi dengan stereotip kemunduran dan ketidakberdayaan orang tua yang selama ini dilanggengkan dalam lingkungan sosial. Persepsi tersebut pada akhirnya memicu kekhawatiran, bahkan sejak dalam tataran imajinasi. 

Yang menakutkan dari menjadi tua sebenarnya bukanlah proses penuaannya, tetapi membayangkan diri sendiri menjadi tua dalam kerangka pikir yang menempatkan usia tua jauh dari kondisi kita saat ini. Imajinasi kita melanglang buana ke masa tua sedangkan pikiran kita terkungkung pada romantisme kemudaan yang menjadi standar masa kini. Disadari atau tidak, membayangkan diri menjadi tua sama dengan membayangkan segala kemungkinan yang tidak pasti tentang menjalani hari tua itu sendiri.

Lantas, jika membayangkan diri menjadi tua di masa depan begitu sulit, haruskah kita memikirkannya dari sekarang? Perlukah kita merasa khawatir atas persepsi kita sendiri tentang kemungkinan yang tidak pasti di masa depan? 

Related Article