Klorokuin dan Avigan Hanya Obat Sementara

Jumat lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa pemerintah telah memesan dua juta obat avigan dan menyiapkan tiga juta klorokuin untuk pasien positif Corona. Menurut Jokowi, hasil riset dan pengalaman beberapa negara lain menunjukkan bahwa kedua obat ini efektif menyembuhkan COVID-19. Mendengar kabar ini, obat klorokuin yang telah dipasarkan di Indonesia sebagai pil kina atau obat malaria pun diburu masyarakat. Harganya melambung, dari Rp18.000 per strip (12 tablet) menjadi sekitar Rp90.000.

Belakangan, ahli kesehatan memperingatkan bahwa klorokuin termasuk dalam obat keras, hanya bisa dibeli menggunakan resep dokter, dan punya efek samping yang serius. Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto mengingatkan bahwa obat ini bukanlah pencegah virus Corona. Klorokuin dan avigan pun dikatakan belum terbukti klinis dapat menyembuhkan COVID-19.

Lantas, apa dasar Jokowi memborong kedua obat-obatan ini? Apakah benar klorokuin dan avigan efektif menyembuhkan penyakit COVID-19?

Klorokuin telah lama diproduksi di Indonesia, tepatnya oleh perusahaan BUMN PT Kimia Farma Tbk. Obat ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1940-an untuk mencegah dan mengobati penyakit malaria. Melalui percobaan in vitro, obat ini diketahui dapat menghambat pertumbuhan banyak jenis virus, seperti chikungunya, dengue, dan influenza. Namun, ketika diuji coba kepada hewan atau manusia, tak banyak hasil percobaan yang berhasil.

Pada pertengahan Februari lalu, beberapa rumah sakit di Cina menguji coba klorokuin kepada lebih dari 100 pasien COVID-19. Hasilnya, obat tersebut dikatakan manjur: pneumonia pada pasien COVID-19 mereda, waktu pemulihan pasien pun jadi lebih cepat. Peneliti di Perancis juga melakukan uji coba terhadap 20 pasien positif COVID-19. Hasilnya, 70% pasien yang telah mengkonsumsi obat ini terbebas dari virus Corona setelah 6 hari.

Namun, hasil uji coba di Cina tidak memaparkan data percobaan. Uji coba di Perancis pun sampelnya tidak cukup banyak. Maka dari itu, banyak pihak yang masih meragukan efektivitas obat ini. Society of Critical Care Medicine di Amerika Serikat mengatakan belum ada bukti yang cukup bahwa klorokuin atau Hydroxychloroquine dapat mengobati pasien COVID-19 yang sedang dalam keadaan kritis.

Obat ini juga bukan tanpa efek samping. Diketahui bahwa klorokuin dapat menyebabkan sakit kepala, mual, muntah, diare, gatal-gatal, perubahan warna kulit, perubahan mood, hingga gangguan pendengaran dan pernapasan. Jika dikonsumsi berlebih atau overdosis, klorokuin dapat menyebabkan kerusakan retina mata (retinopathy) hingga kematian.

Bagaimana dengan avigan?

Avigan atau favipiravir adalah obat antivirus yang pertama kali dikembangkan oleh Fujifilm Toyama Chemical, Jepang, pada 2014. Obat ini awalnya dikembangkan untuk mengobati penyakit influenza, tetapi kemudian juga diketahui cukup manjur mengobati pasien penyakit Ebola yang memiliki gejala ringan ke sedang. Lewat eksperimen terhadap hewan, obat ini juga dikatakan dapat menghambat pertumbuhan virus-virus lain, seperti virus yang menyebabkan penyakit west nile, demam kuning, rabies, dan penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pada 17 Maret lalu, pemerintah Cina mengabarkan bahwa favipiravir berhasil mengobati pasien COVID-19 di Wuhan dan Shenzhen. Menguji obat ini kepada lebih dari 320 pasien, diketahui bahwa favipiravir mampu mempercepat waktu pemulihan—dari yang biasanya 11 hari jika tanpa obat menjadi 4 hari. Lewat foto X-ray, diketahui pula bahwa kondisi paru-paru pasien COVID-19 mengalami perbaikan hingga 91%. Tanpa efek samping berarti, pemerintah Cina telah menyetujui obat ini untuk dipasarkan secara luas dan digunakan untuk mengobati pasien virus Corona.  Namun, hasil studi lain di Jepang mengindikasikan bahwa avigan atau favipiravir tidak terlalu efektif menyembuhkan pasien dengan gejala yang lebih serius.

Profesor Mikrobiologi Ying Zhang mengatakan bahwa “tak ada waktu untuk menunggu” di tengah situasi yang urgent ini. Virus COVID-19 menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru dunia. Korban terus bertambah. Sementara pengembangan vaksin butuh waktu bertahun-tahun, 

Hasil penelitian terkait klorokuin dan avigan ini telah menuai harapan. Setidaknya,  jumlah kematian pun dapat ditekan dan rumah sakit tak perlu lagi kewalahan. 

 

Related Article