Kiat-Kiat Penata Rambut Transpuan Bertahan Hidup Selama Pandemi

Bagi transpuan, kesempatan untuk menempuh pendidikan dan bekerja tak gampang diraih. Lebih-lebih semasa pandemi COVID-19. Salon "Sang Ratu" di Universitas Atma Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, yang dikelola oleh para transpuan mesti tutup sementara sejak Maret lalu. Kebijakan social distancing membuat kampus sepi. Orang-orang juga tidak berani untuk pergi ke salon.

Jio dan Ajeng biasanya berganti-gantian menjadi penata rambut di Sang Ratu Salon yang beroperasi sejak pertengahan Februari lalu. Setiap harinya, mereka bisa mendapatkan 6-7 pelanggan. “Sejak pandemi COVID-19, kami otomatis nggak tahu mesti ngapain lagi. Jadinya mencari duit pun susah. Minoritas seperti kami saja kan di situasi normal saja sudah susah, apalagi dengan pandemi seperti ini,” kata Jio dalam webinar “Kabar dari Salon Sang Ratu” (20/5).

Hal serupa juga disampaikan oleh Ajeng. “Sulit, sih. Aku kerja yang lain juga nggak bisa. Melakukan hal lain juga nggak memungkinkan karena ada peraturan PSBB. Tapi alhamdulillah masih ada bantuan dari organisasi lain. Masih bisa menerima customer di sekitar rumah juga,” ujar Ajeng (20/5).

Sang Ratu Salon telah melalui proses panjang dan berliku sebelum dibuka secara resmi pada Februari lalu. Ia bermula sebagai proyek Yes, I Can yang dipimpin oleh Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Profesor Irwanto. Menurut Irwanto, kegiatan pemberdayaan kelompok marginal selama ini jarang yang sifatnya berkelanjutan. “Seringkali program pemberdayaan itu kita lakukan dengan antusias, tapi hasilnya nihil. Artinya walau di awal bagus, tapi akhir-akhirnya melempem juga. Oleh karena itu, saya tidak lagi memilih pemberdayaan, tapi influence. Karena saat ini menurut saya teman-teman transpuan sudah sangat berdaya. Yang nggak siap justru si pemberi kerja,” ungkap Irwanto dalam diskusi webinar (20/5).

Kata Irwanto, ada diskriminasi struktural yang membuat kelompok marginal seperti anak jalanan, pekerja seks, dan transpuan kesulitan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan. Salah satunya, institusi formal seperti universitas hanya menerima pelajar lulusan SMA/Sederajat. Sementara itu, kenyataannya, banyak transpuan yang tidak bisa menempuh pendidikan.

Mindset mereka, kalau orang masuk universitas harus punya ijazah, dan ijazah itu terstruktur dari SD sampai SMA. Sedangkan teman-teman transpuan, karena termarginalisasi, KTP aja sering kali nggak punya. Tugas saya adalah mencoba mendobrak tradisi yang ada.”

Irwanto mengajak perusahaan dan universitas untuk mengadakan pelatihan bagi para kelompok marginal. “Kami tim Yes, I Can bergerilya masuk ke perusahaan dan institusi seperti Astra, Martha Tilaar, Universitas Tarumanegara untuk menantang mereka memberikan pengakuan kepada kelompok marginal dalam bentuk pelatihan dan pemberian sertifikat. Rupanya proyek ini menantang sehingga lembaga-lembaga tersebut menyanggupi,” ujar Irwanto.

Dalam pelatihan menjadi penata rambut dan rias wajah, para transpuan juga turut diberikan pelatihan kewirausahaan. Project Officer Yes, I Can Ary Bumi Kartini mengatakan program ini bertujuan agar para transpuan dapat mengelola usaha mereka sendiri setelah selesai pelatihan. “Harapannya, ketika proyek ini kelar, usaha tidak kelar, sehingga bisa jadi ladang bagi teman-teman transpuan untuk belajar mengelola sebuah unit usaha dalam jangka panjang,” kata Bumi (20/5).

Semenjak PSBB, pengelola salon memutar otak untuk tetap bisa mendapatkan penghasilan. Tim Yes, I Can pun berinisiatif untuk membuka layanan door-to-door. Mereka pun menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk meminimalisir risiko penularan virus dari atau ke pelanggan. “Ini adalah upaya agar teman-teman transpuan masih dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan. Tapi ada protokol kesehatan yang mesti dipenuhi, seperti membekali teman-teman dengan termometer untuk mengukur suhu, menyiapkan disinfektan, hand sanitizer, dan memberikan opsi bagi pelanggan untuk memakai kain atau handuk sendiri—walaupun kami juga menyediakan dan dipastikan sudah steril,” jelas Bumi.

Membuka usaha salon door-to-door di masa pandemi bukan hal mudah. Tak semua pekerja salon pun turut serta dalam usaha ini. Dari enam pengelola salon, hanya dua yang memilih tetap bekerja. “Kalau dibilang berisiko, memang sangat berisiko. Tapi kami juga melakukan langkah-langkah antisipasi seperti telah menyiapkan alat pelindung diri, disinfektan, dan sebagainya. Kami juga nggak keberatan kalau mesti mandi dan ganti baju dulu ketika bertemu pelanggan,” ujar Jio.

Jio dan Ajeng mengharapkan dukungan dari masyarakat agar transpuan tidak lagi dilekatkan stigma negatif dan didiskriminasi. “Dibilang butuh, semua transpuan pasti butuh. Karena kami lebih rentan kena stigma dan didiskriminasi. Masih ada orang yang nggak tahu transpuan itu apa. Malah kami mendapatkan ledekan dan pelecehan. Padahal kami nggak merugikan orang lain. Setiap orang punya hak mengekspresikan diri, kenapa malah dilecehkan,” kata Ajeng.

Related Article