Kehilangan Indera Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19?

“Saya dikonfirmasi COVID-19 dan gejala utama saya adalah anosmia (kehilangan indera penciuman) dan ageusia (kehilangan indera pengecapan). Tanpa demam atau batuk.”

Tamara Elliott, seorang dokter asal Kerajaan Serikat (United Kingdom), mengatakan itu lewat akun Twitter-nya. Hal serupa diungkapkan Rudy Gubert, pemain Utah Jazz, yang melaporkan bahwa dirinya kehilangan indera penciuman ketika dites positif virus Corona. Sejumlah pasien virus Corona di berbagai negara melaporkan bahwa diri mereka tidak bisa mencium bau rempah-rempah dan bau parfum yang biasanya menyengat. Makanan pun terasa hambar.

Menurut Elliott, orang yang positif COVID-19 bisa jadi mengalami gejala yang sangat ringan hingga tidak terdeteksi. Salah satu ciri gejala yang baru diketahui akhir-akhir ini adalah hilangnya indera penciuman dan pengecapan.

Jika hyposmia adalah kondisi ketika kemampuan penciuman seseorang terganggu dan mengalami penurunan, anosmia adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan penciuman secara total. Sementara itu, dysgeusia adalah gangguan terhadap indera pengecapan yang membuat mulut terasa asam, pahit, atau asin seperti menyentuh logam. Kondisi-kondisi ini punya keterkaitan erat dengan gejala awal infeksi saluran pernapasan—termasuk kasus-kasus virus Corona terdahulu.

Pernyataan Elliott ini juga diungkapkan oleh kelompok dokter spesialis THT asal Inggris. Lewat rilisnya, dokter yang tergabung dalam ENT UK, The Royal College of Surgeons of England, berkata bahwa terdapat bukti-bukti baru kehilangan indera penciuman termasuk dalam gejala infeksi COVID-19. “Terdapat banyak laporan tentang meningkatnya jumlah pasien virus Corona yang mengalami anosmia tanpa gejala lain,” kata profesor Claire Hopkins.

Penemuan ini juga telah disadari negara-negara lain, seperti Iran yang melaporkan lonjakan mendadak jumlah kasus isolated anosmia. Di Amerika Serikat, sejumlah pasien melaporkan hilangnya indera penciuman dan pengecapan—terlepas dari hidung yang tidak berlendir dan tidak sesak. Begitu pula di Perancis dan Italia Utara.

“Minggu ini, saya telah menemui empat pasien yang kehilangan indera penciumannya. Ini jarang terjadi sebelumnya,” tutur Hopkins. “Usia mereka di bawah 40 tahun, dan mereka tidak diminta untuk mengisolasi diri. Pasien-pasien ini bisa jadi carrier tersembunyi yang memfasilitasi penyebaran cepat COVID-19.”

Selain di Kerajaan Serikat, penelitian juga telah dilakukan di di Korea Selatan dan Jerman. Sebanyak 30% orang yang dikonfirmasi positif virus Corona mengalami anosmia dan gejala-gejala ringan lain. Sementara itu, di Jerman, 2 dari 4 kasus yang telah terkonfirmasi punya gejala anosmia.

Menurut Hopkins, orang-orang yang memiliki gejala ini diharapkan dapat mengisolasi diri. “Jika kriteria isolasi diri selama 7 hari yang berlaku saat ini ditambah dengan orang-orang yang mengalami anosmia, kita mungkin dapat mengurangi jumlah individu asymptomatic yang terus berperan sebagai vektor,” ujar Hopkins. Hal yang sama juga diimbau American Academy of Otolarynygology. Mereka mengatakan orang-orang yang mengalami gejala ini mesti dikutkan dalam tes COVID-19—berbarengan dengan gejala lain yang telah diketahui seperti demam, batuk-batuk, dan sesak napas.

Cina telah melaporkan bahwa banyak dokter spesialis THT di negaranya dalam kondisi kritis atau meninggal akibat tertular virus Corona. Begitu pula dengan sejumlah dokter di Inggris yang telah terinfeksi virus Corona dan kini dalam kondisi kritis. Sementara itu, ahli otolaringologi yang banyak melakukan pemeriksaan dan operasi saluran pernapasan jadi yang paling rentan untuk terpapar virus.

WHO (World Health Organization) belum dapat mengkonfirmasi bahwa kondisi ini termasuk dalam gejala COVID-19, tetapi saat ini sedang mengumpulkan data lebih lanjut. “Kami belum punya jawaban untuk ini,” ungkap Head of Emerging Diseases and Zoonosis Unit WHO, Maria Van Kerkhove. “Jika benar, penemuan ini berpotensi membantu mengidentifikasi pasien-pasien asymptomatic, yang kemudian bisa diinstruksikan untuk mengisolasi diri.”

Related Article