Kata Sains, Pandemi yang Lebih Parah Akan Datang jika Kerusakan Alam Terus Terjadi

“Ada satu spesies yang bertanggung jawab atas pandemi COVID-19—kita. Seperti halnya krisis iklim dan keanekaragaman hayati, pandemi saat ini adalah konsekuensi dari aktivitas manusia yang selalu memperjuangkan pertumbuhan ekonomi dengan cara apa pun,” ungkap sekelompok peneliti yang tergabung dalam The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiveristy and Ecosystem Services (IPBES).

Tim peneliti yang terdiri dari Josef Settele, Sandra Diaz, Eduardo Brondizio, dan Peter Daszak memperingatkan bahwa akan ada pandemi-pandemi baru jika manusia tidak berhenti merusak alam. Hingga saat ini, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia diestimasikan telah menyebabkan 700.000 kematian setiap tahunnya. Namun, di masa mendatang, pandemi dapat terjadi lebih sering, cepat, dan bisa jadi lebih mematikan.

1,7 juta virus yang diketahui dapat menginfeksi manusia kini hidup di mamalia dan burung. Para peneliti, yang sebelumnya menemukan bahwa 1 juta spesies hewan dan tumbuhan berisiko punah selama satu dekade mendatang, mengatakan bahwa virus-virus ini bisa saja menjadi penyakit baru yang lebih berbahaya dan mematikan dibandingkan COVID-19.

Walaupun asal muasal virus yang menyebabkan penyakit COVID-19 belum diketahui secara pasti, 60% penyakit menular bersumber dari hewan—dengan 70% penyakit menular yang baru muncul berasal dari satwa liar. AIDS, misalnya, berasal dari simpanse. Begitu pula dengan SARS yang terindikasi ditularkan oleh hewan yang hingga saat ini belum dapat dipastikan spesiesnya.

Selama 50 tahun terakhir, 60% satwa liar punah, sementara jumlah penyakit menular meningkat empat kali lipat dalam 60 tahun terakhir. Kerusakan ekosistem jelas turut memperparah kemunculan dan penyebaran penyakit menular baru.

Wabah Ebola di Afrika, misalnya, paling banyak terjadi di wilayah-wilayah bekas penebangan hutan. Pada 1990, jumlah kasus malaria di Peru juga meningkat dari 600 kasus per tahun menjadi 120.000—menyusul pembangunan jalan di tengah hutan. Nyamuk pembawa penyakit malaria pun diketahui mengigit 278 kali lebih sering dibandingkan spesies yang sama di hutan yang tidak terusik.

“Merajalelanya penebangan hutan, ekspansi agrikultur yang tak terkendali, pertambangan dan pembangunan infrastruktur, serta eksploitasi spesies liar telah menyebabkan penyebaran penyakit dari satwa liar ke manusia jadi lebih mudah,” ungkap para peneliti di artikel mereka.  

Habitat alami tempat hidup berbagai spesies terus berkurang hingga kini—menyebabkan banyak spesies terpaksa mencari tempat tinggal lain yang lebih dekat dengan manusia. “Kita telah merusak ekosistem dan berisiko membuat virus di hewan menemukan inang baru: kita,” ujar Marie Quinney, spesialis Nature Action Agenda, di weforum.org.

Hingga saat ini, dunia baru mengonservasi 15% lahan dan 7% lautan di bumi. Agar krisis lingkungan dapat terkendali dan wabah penyakit dapat dicegah, diketahui bahwa setidaknya 30% wilayah di bumi mesti terlindungi pada 2030. Sejumlah negara pun mulai sepakat untuk mengembalikan separuh planet Bumi ke alam dan memanfaatkan sisanya secara bertanggung jawab.

Para peneliti IPBES mengimbau stimulus penanganan COVID-19 mesti turut mempertimbangkan dampak ke lingkungan. Negara-negara mesti memperketat regulasi terkait lingkungan, mengadopsi pendekatan ‘One Health’ yang menyadari keterkaitan antara kesehatan manusia dan alam, serta memperbaiki sistem layanan kesehatan di negara-negara paling rentan.

Menurut Daszak, stimulus ini tidak murah. “Program ini dapat menghabiskan puluhan miliar dolar setiap tahunnya,” katanya. Namun, jumlah ini tak seberapa dibandingkan pandemi yang dapat menghabiskan biaya hingga triliunan dolar. “Jadi ini adalah investasi yang baik,” lanjutnya.

UN Environment Programme memperkirakan bahwa setiap dolar yang digunakan untuk merestorasi alam akan memberikan manfaat ekonomi setidaknya sebesar USD9. Begitu pula hasil laporan dari Food and Land Use Coalition yang menemukan bahwa perubahan cara bertani dan memproduksi pangan dapat membuka kesempatan bisnis baru bernilai USD4,5 triliun setiap tahunnya pada 2030, dan pada saat yang sama menghemat biaya triliunan dolar untuk menanggulangi kerusakan lingkungan dan sosial.  

“Bisnis seperti sekarang ini tidak akan berhasil. Bisnis seperti biasa sama saja dengan menunggu pandemi kembali muncul dan kita hanya bisa mengharapkan vaksin. Kita mesti membongkar akar masalah utamanya,” pungkas Daszak.

Related Article