Kapasitas Tes Balitbangkes 1.700, Kenapa Jumlah Tes Setiap Harinya Bisa Hanya 100-an?

Lagi-lagi, jumlah sampel COVID-19 yang diproses Kemenkes terlampau minim. Sore ini (3/4), dari 196 spesimen baru yang dilaporkan oleh situs Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan, seluruhnya positif COVID-19.

Hal yang sama juga sempat terjadi pada 30 dan 31 Maret lalu. Dari 129 dan 114 spesimen yang dites pada 30 dan 31 Maret lalu, semuanya positif COVID-19.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih menuturkan sedikitnya jumlah tes yang dilakukan oleh Kemenkes setiap harinya. “Masih terhitung kecil. Perlu dilakukan yang lebih luas, massal, dan cepat,” kata Daeng dikutip dari Kompas.com.

Setiap harinya, bukannya terdapat kenaikan jumlah spesimen yang dites, angka yang dilaporkan oleh Kemenkes justru cenderung menurun. Pada 28 Maret, jumlah spesimen yang dites mencapai 1.439. Namun, di hari setelahnya, angka ini menurun menjadi 491 spesimen, dan kemudian menjadi 268 spesimen pada 30 Maret. Alhasil, jumlah kasus positif COVID-19 yang dilaporkan tiap harinya juga beberapa kali mengalami penurunan.

Indonesia pun menjadi negara dengan performa tes COVID-19 terburuk di dunia setelah Bangladesh. Berdasarkan data yang telah diolah oleh @jodigraphics15, Indonesia hanya melakukan dua tes untuk setiap 100.000 penduduk—kalah jauh dari Malaysia yang melakukan 112 tes, Singapura 672 tes, dan Korea Selatan 843 tes untuk setiap 100.000 penduduknya.

Sejak pertama kali melakukan tes pada awal Maret lalu, Kementerian Kesehatan baru melakukan 7.621 tes. Jumlah ini berbeda jauh dengan Vietnam yang telah melakukan lebih dari 73.000 tes dan Malaysia yang telah melakukan lebih dari 45.000 tes. Jumlah ini juga jauh tertinggal dibandingkan dengan Korea Selatan yang dapat memeriksa 15 ribu sampel setiap harinya—dengan total tes yang telah dilakukan hingga saat ini mencapai 443.000.

Jumlah Tes vs Jumlah Kasus Positif COVID-19 secara Harian

Ke Mana Hasil Tes?

Indonesia bukannya tidak mampu melakukan tes lebih banyak. Seperti yang pernah disebutkan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto, diketahui bahwa kapasitas pemeriksaan Balitbangkes setiap harinya adalah 1.700 spesimen. Kemenkes juga bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang dapat memproses sekitar 240 tes setiap hari dan Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga (Unair) yang dapat melakukan sekitar 200-300 tes dalam tiga hari. Totalnya, pemerintah semestinya dapat melakukan hingga 2.000 tes dalam sehari.

Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengatakan mereka telah melaporkan hasil tes yang telah diproses setiap harinya kepada Kemenkes, baik yang positif COVID-19 maupun yang negatif. “Mereka [Kemenkes] minta dua-duanya,” kata Herawati kepada Asumsi.co (3/4).

Setiap harinya, jumlah sampel yang dilaporkan oleh Eijkman kepada Kemenkes adalah sekitar 160-180. Sementara itu, mengambil laporan dari situs Info Emerging Kemenkes, jumlah sampel selesai diproses yang dilaporkan setiap harinya bisa kurang dari 160-180. Kemenkes juga tidak melaporkan dari lembaga atau laboratorium mana saja spesimen-spesimen tersebut berasal. 

Herawati juga mengakui kapasitas laboratorium Eijkman mengalami penurunan, sebab mereka tersendat di proses ekstraksi DNA/RNA yang memakan waktu. “Sekarang itu kasusnya banyak sekali, sehingga kami nggak bisa mengikuti. Dengan sumber daya manusia kami yang terbatas, sehari kurang lebih 180 lah,” kata Herawati.

Mulai minggu depan, Eijkman berencana untuk menambah kapasitas tes. “Kami akan mendapatkan alat robotik, sehingga ekstraksi tidak perlu dilakukan secara manual. Kami bergerak, kok, karena kami juga merasa terlalu lambat.”

Sementara itu, Achmad Yurianto menyatakan bahwa pemerintah tidak tahu secara pasti jumlah spesimen pasien terduga COVID-19 yang diperiksa setiap harinya. “Yang saya ketahui yang positif saja. Untuk lebih jelasnya bisa ke Balitbang Kemenkes,” tuturnya. Balitbang Kemenkes tidak merespons permintaan wawancara Asumsi.co hingga saat ini.

Tes untuk Semua, Bukan Hanya yang Sakit

Herawati mengatakan spesimen yang telah masuk ke Balitbangkes, Eijkman, dan LPT Unair datang dari rumah-rumah sakit rujukan saja. “Kami hanya memeriksa yang dikirim oleh rumah sakit, dan itu berarti mereka sudah memiliki gejala. Jadi kasusnya saja sudah terseleksi,” kata Herawati. “Mereka-mereka yang tidak punya gejala klinik dengan kemungkinan positif mungkin jauh lebih banyak daripada yang sakit.”

Sementara itu, dengan jumlah kematian akibat COVID-19 yang mencapai 181 orang (3/4), sejumlah pihak mengestimasi jumlah kasus positif COVID-19 telah jauh lebih banyak daripada yang dilaporkan oleh pemerintah. Korea Selatan dengan jumlah kematian 174 orang, misalnya, telah mencatat lebih dari 10.000 kasus. Bahkan, Filipina telah melaporkan lebih banyak kasus (2.633) dari Indonesia untuk jumlah kematian yang lebih sedikit (107). Indonesia pun jadi negara kedua di Asia setelah Cina dengan jumlah kematian terbanyak.

Berdasarkan pemodelan matematis yang dilakukan oleh London School of Hygiene and Tropical Medicine UK, diestimasikan bahwa jumlah kasus yang terdeteksi di Indonesia hanyalah sekitar 4,5% dari kasus sebenarnya. Artinya, diperkirakan seharusnya terdapat lebih dari 39.000 kasus COVID-19 saat ini. Jika mengikuti perhitungan Universitas Oxford di Our World in Data, jumlah kasus di Indonesia yang akan berlipat ganda setiap 7 hari akan membuat Indonesia mempunyai 70.000 kasus pada 10 April mendatang.

Melakukan social distancing dikatakan tidak cukup jika tidak dibarengi dengan tes massal. WHO Director General Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kunci utama untuk menanggulangi wabah COVID-19 adalah tes sebanyak-banyak. “Kamu tak bisa melawan virus jika kamu tak tahu di mana letaknya.”

Dengan melakukan tes massal, maka akan dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi cluster penyebaran virus, mencari jejak orang yang pernah berkontakan, dan memastikan mereka dikarantina atau mengisolasi diri.

Sementara itu, menurut ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Indonesia akan menjumpai kenaikan angka kematian yang drastis jika tes massal tak juga dilakukan. Dalam pemodelan mereka yang berjudul “Covid-19 Modelling Scenarios Indonesia”, tim FKM mengestimasi jumlah kematian di Indonesia pada pertengahan Mei mendatang jika pemerintah melakukan intervensi secara rendah, sedang, dan tinggi.

Dalam skenario intervensi tinggi—yaitu melakukan tes massal dengan cakupan tinggi dan melakukan karantina wilayah—maka jumlah kematian dapat ditekan menjadi 11.898 kasus. Angka tersebut sudah terbilang tinggi, tetapi akan menjadi semakin parah jika intervensi pemerintah masih longgar seperti saat ini.  

Intervensi sedang (melakukan tes massal dan memperketat social distancing) masih akan membuat angka kematian mencapai 47.984 jiwa. Sementara intervensi rendah seperti sekarang ini (minim tes dan minim aturan social distancing) berisiko membuat angka kematian melonjak drastis menjadi 144.266.

Idealnya, menurut Herawati, tak hanya orang yang telah menunjukkan gejala yang diperiksa, tetapi semua orang. “Kalau kita mau seperti negara-negara lain, semuanya diperiksa,” pungkasnya.

Related Article