Apa yang Harus Dilakukan Orang Hamil Saat Wabah COVID-19 Melanda?

Kedatangan virus Corona berpengaruh besar tidak hanya bagi yang terkonfirmasi positif COVID-19 beserta orang-orang terdekat mereka, tetapi seluruh aspek kehidupan. Pusat perbelanjaan yang semakin sepi membuat banyak pekerja berisiko kehilangan pekerjaan. Sementara itu, rumah sakit semakin sesak. Banyak laporan tentang rumah sakit yang kekurangan tenaga medis dan tak sedikit yang kekurangan APD atau alat pelindung diri bagi karyawannya.

Di tengah itu semua, kekhawatiran melanda orang-orang yang sedang hamil. Bagaimana jadinya kalau ia terinfeksi virus Corona? Apakah rumah sakit punya cukup ruang dan tenaga medis untuk menampung proses kelahiran? Adakah kemungkinan bayi tertular virus Corona sejak dalam kandungan?

Arfiani hamil besar tatkala wabah COVID-19 melanda Indonesia. Saat ini, usia kandungannya 36 minggu, tinggal 3 sampai 4 minggu lagi hingga ia melahirkan.

“Orang hamil kan imunitasnya tidak seoptimal orang dewasa sehat pada umumnya, jadi pasti aku khawatir dengan sudah masuknya COVID-19 ke Indonesia. Terlebih, aku sedang hamil besar,” ujar Arfiani kepada Asumsi.co (24/3). “Suamiku pun masih bekerja di DKI Jakarta yang merupakan daerah zona merah penyebaran COVID-19.”

Menurut dokter Tina Yarrington, sistem kekebalan tubuh orang hamil memang jadi lebih rentan. “Ada perubahan sistem imunitas yang berguna untuk mencegah tubuh menyerang janin—yang dapat dianggap sebagai organisme luar tubuh. Perubahan sistem itu juga membuat seseorang lebih rentan terinfeksi virus lain,” ujar Yarrington, dikutip dari podcast Today, Explained: Giving birth in a pandemic.

Namun, Yarrington juga mengabarkan bahwa perempuan hamil yang terinfeksi virus Corona tidak menunjukkan gejala lebih parah dari orang lain. “Contohnya, perempuan berusia 28 tahun yang sedang hamil dan dalam keadaan sehat punya risiko kesehatan yang sama dengan perempuan berusia 28 tahun yang sedang dalam keadaan sehat dan tidak hamil jika terjangkit virus Corona.”

Hingga saat ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) belum dapat memastikan apakah COVID-19 dapat menyebabkan masalah pada kehamilan. CDC juga belum mengetahui apakah seseorang yang sedang hamil dapat menularkan atau membahayakan janinnya, atau apakah menyusui juga bisa jadi medium penularan. Dengan jumlah kasus orang hamil terinfeksi virus Corona yang masih sedikit, CDC dan lembaga-lembaga kesehatan lainnya pun belum dapat mengkonfirmasi informasi apa pun.

Sementara itu, dengan jumlah kasus COVID-19 yang kian bertambah, rumah sakit semakin kewalahan. Di sejumlah tempat, bangsal-bangsal bersalin di rumah sakit terpaksa ditutup. Di Wina, Austria, misalnya, rumah sakit kedua terbesar di kota tersebut mesti menutup departemen ginekologinya setelah seorang pasien menginfeksi 8 staf rumah sakit dan tiga pasien lainnya. Akibatnya, ruang melahirkan mesti ditutup dan 28 tenaga rumah sakit mesti dikarantina.

Hal serupa terjadi di Perth, Australia. 19 karyawan dan 4 pasien dikatakan telah berkontak dengan karyawan yang dikonfirmasi positif virus Corona. Alhasil, mereka mesti dipulangkan dan mengisolasi diri di rumah. Bangsal bersalin rumah sakit itu pun mesti direlokasi.

Walaupun rumah sakit Arfiani tak dijadikan rujukan pasien COVID-19, ia tetap melakukan upaya antisipasi. “Kalau misalnya aku nggak bisa melahirkan di rumah sakit, mungkin pilihannya ke klinik bidan,” kata Afriani. Tapi, itu hanya bisa dilakukan jika ia melahirkan secara normal [persalinan vaginal]. “Kalau nyatanya aku harus sesar, mau nggak mau harus ke provider rumah sakit yang punya fasilitas lebih lengkap.”

Sama seperti Arfiani, semakin banyak orang hamil di berbagai dunia yang mempertimbangkan beberapa opsi untuk menghindari rumah sakit yang kewalahan. Beberapa orang mempertimbangkan opsi untuk melahirkan di rumah, seperti Irin Carmon yang menceritakan kisahnya lewat The Cutwalaupun diketahui bahwa tak semua orang bisa melahirkan sendiri di rumah. Sekitar sepertiga persalinan di rumah berakhir membutuhkan layanan darurat rumah sakit.

Ada pula orang lain yang memillih untuk melahirkan secara lebih awal. Julia Belluz, reporter di Vox, misalnya, memilih untuk diinduksi sehingga bayi lebih cepat keluar. “Usia kehamilan saya mendekati 40 minggu dan saya akan diinduksi malam ini, lima hari lebih awal dari tanggal seharusnya. Bukan karena alasan medis, tetapi karena pandemi COVID-19,” ujarnya lewat Vox.com. Belluz juga mengantisipasi perawatan pascapersalinan yang mungkin akan lebih sulit didapatkan di waktu-waktu ke depan.

Sementara itu, strategi yang dilakukan Arfiani sejauh ini adalah dengan memilih rumah sakit khusus ibu dan anak yang hampir tidak mungkin melayani pasien COVID-19. “Lagipula, belum ada kebijakan dari pemerintah mengenai fasilitas rumah sakit untuk persalinan yang akan ditutup,” kata Arfiani.

Selain itu, dokter kandungannya mengimbau agar Arfiani menjaga imunitas tubuh dan menetapkan perilaku hidup bersih dan sehat—seperti mandi bersih dan mencuci tangan. “Sejauh ini belum ada vaksin untuk COVID-19, jadi untuk mencegahnya adalah dengan memperbanyak minum vitamin, air kelapa, dan air rebusan jahe yang membantu memperkuat imunitas tubuh. Selain itu, nurut sama pemerintah juga untuk melakukan self-isolation demi mencegah paparan dari luar,” tuturnya.

Related Article