Depok Adalah Kota Terbaik di Dunia

Saya tinggal di Depok dua kali, pada 2014 dan 2016, tapi merasa tak ada yang luar biasa di kota itu selain kemacetannya. Biaya makan dan kos-kosan murah, tapi itu kurang mengesankan buat saya yang lama bercokol di Jogja. Akses transportasi umum terbuka lebar--saya tinggal di kelurahan Pondok Cina--namun jiwa saya kempis, sonder gairah hidup dan cita-cita, karena setiap hari saling menggencet dengan sesama pekerja.

Pada akhir 2016, saya mulai tinggal di Kemang, Jakarta Selatan, dan hidup sekonyong-konyong terasa lebih berwarna. Kalaupun sesekali hari agak gelap, saya tahu saya takkan kesulitan mencari penghiburan. "Nggak kayak di Depok," kata saya kepada kawan-kawan yang masih tinggal di sana, "cari bir saja susah."

Oh, betapa keliru kata-kata tersebut. Alangkah lugu menilai Depok semata berdasarkan pengalaman tinggal di sekitar Jalan Margonda, yang sebenarnya cuma tiruan pucat Jakarta. Namun, untunglah, sejak berpacaran dengan seorang kembang desa dari Sukatani, Kecamatan Tapos, Depok, pencerahan memasuki benak saya seperti air meresap ke kain. 

Dalam perjalanan pulang pertama dari Sukatani, saya hampir-hampir tak memercayai penglihatan sendiri: di tepi jalan kampung, ada laki-laki yang mengenakan baju semak belukar dan mahkota bulu sedang menaik-turunkan sebuah keranda dari jauh. Tentu saja saya buru-buru memarkir sepeda motor dan ikut menonton. Dia mengiris lidah dengan parang, tapi tidak terluka sama sekali. 

"Kalau ada yang bilang parang ini tumpul, boleh coba kasih kuping," katanya sambil mengiris sehelai kertas. "Kalau ada orang sakti, orang berilmu, coba-coba mengganggu, jangan salahkan mandau saya terbang mencari kepala."

Saya terpana seperti orang-orang Macondo terpana menyaksikan Melquiades.

Tentu saja ujung-ujungnya dia menjual jimat. Tetapi jimat, menurut saya, adalah barang yang jauh lebih keren ketimbang sepatu. Kata Annie Dillard, berdagang sepatu bahkan lebih buruk daripada mengajari batu bicara.

Syak wasangka saya tentang Depok pun terguncang, tetapi yang benar-benar merobohkannya ialah sebuah pasar malam di Sukatani. Ia kecil saja, tetapi saya bahagia sampai-sampai hendak menangis waktu menjajal wahananya satu per satu: kora-kora sederhana yang membuat saya berteriak-teriak memanggil Anies Baswedan (saya dilarang memaki karena ada banyak anak kecil di sekitar kami), bianglala karatan yang berderit-derit, bola karet yang memantul kesetanan... sayang sekali tidak ada tong setan.

Bagi banyak orang, pasar malam mungkin terlampau sepele dibandingkan Dufan, apalagi Disneyland. Namun, bagi bocah berumur 10 atau 11 tahun dalam diri saya, yang pernah sangat ingin bergabung tapi ditolak mentah-mentah oleh rombongan pasar malam yang singgah ke kampungnya, kunjungan itu menyembuhkan. 

Setelah bertahun-tahun tinggal di pusat hiburan Jakarta Selatan, saya malah menemukan pelipur hati yang paling saya butuhkan di Depok. Maka, saya pun bertekad mengikuti segala kabar terbaru, dan astaga, semakin banyak tahu, semakin saya yakin bahwa Depok memahami kebutuhan-kebutuhan saya, bahwa itulah tanah yang dijanjikan bagi diri ini.

Seorang kawan yang tinggal di Depok Lama pernah bilang bahwa di daerahnya ada peternakan ayam yang menyetel ayat-ayat suci Al-Quran di semua kandang dengan sound system sepanjang hari. Dasarnya, kata si kawan, seperti keyakinan bahwa pembacaan ayat-ayat suci bisa mengubah susunan molekul air.

Karena tak tahu itu kabar sungguhan atau cuma kelakar, saya berusaha melacak sumbernya. Sayang sekali, pencarian itu malah mengantarkan saya pada temuan-temuan lain yang tak kalah sedap, di antaranya "polisi menyelidiki loyang kue berbahasa Arab" dan "serbuan lalat ke perumahan."

Katakanlah Depok menyediakan hiburan tanpa batas, tapi tidakkah saya terburu-buru jika memutuskan untuk menetap di sana hanya karena satu fitur? Saat memilih kota tempat tinggal, bukankah orang seharusnya memeriksa banyak hal, termasuk bagaimana kota itu dikelola oleh pemerintahnya dalam sekian tahun terakhir?

Saya senang membaca tulisan-tulisan Yurgen Alifia Sutarno, pemerhati kebijakan kota sekaligus bakal calon walikota Depok. Sekali waktu, dia mengatakan bahwa kebijakan ekonomi pemda tak sesuai dengan rancangan resmi Depok sebagai kota niaga dan jasa. Sektor pariwisata, misalnya, kata Yurgen, compang-camping karena tak ada masterplan yang jelas. Segalanya berantakan, mulai dari branding hingga akses transportasi umum ke lokasi wisata.

Pada kesempatan lain, Yurgen bilang Depok mungkin akan tetap macet sampai akhir zaman karena, lagi-lagi, perencanaan yang buruk. Alih-alih melakukan penataan primer yang benar, otoritas malah sibuk merespons secara parsial lewat rekayasa lalu lintas, entah itu sekadar memasang separator antarjalur atau melebarkan jalan. Siasat utamanya pun miskin imajinasi: membangun jalan baru.

Di luar pengabaian terhadap hal-hal substantif itu, tentu saya pernah mendengar program-program absurd seperti "Gerakan Makan dengan Tangan Kanan" dan "One Day No Rice" yang diinisasi wali kota lama Nur Mahmudi Ismail? Bagaimana dengan wali kota Mohammad Idris yang kian sibuk mencari tongkrongan LGBT (kecuali, mungkin, saat mengarang lagu soal warna-warna lampu lalu lintas)? 

Dan yang terbesar, suatu hari nanti otoritas Depok mungkin akan mewajibkan "setiap muslim memelihara dan meningkatkan keyakinan agama Islam," "setiap orang membangun, menjaga, dan memelihara akhlak sesuai ajaran agama dan norma sosial," serta "pemerintah daerah membina dan mengawasi pelaksanaan tata nilai kehidupan masyarakat yang religius," sebagaimana dinyatakan pasal 6, 12, dan 16 rancangan perda tentang penyelenggaraan kota religius (PKR).

Terus terang saja, alih-alih mengubah, semua itu justru mengukuhkan penilaian terbaru saya terhadap Depok. Ia, yang makin lama makin menyerupai kekhalifahan itu, adalah tanah yang dijanjikan bagi orang-orang seperti saya--muslim, laki-laki cis hetero, dan punya uang.

 

*Tulisan ini tayang pertama kali di newsletter Asumsi, 5.45

Related Article