Bertahanlah, Kita Pasti Sanggup Melewati Ini Semua

Tumpukan majalah setinggi satu meter di pojok kamar saya kini tinggal setinggi botol sampo kecil. Kamis (19/3), tiga hari setelah Asumsi menerapkan sistem kerja dari rumah, saya sudah bosan minta ampun. Kepala pengar karena saya cuma bekerja dan tidur sepanjang hari. Kemudian, entah dirasuki apa, saya mulai memermak majalah-majalah jadi lembar-lembar kolase.

Saya senang membuat kolase sejak awal berkuliah. Kalau koleksi majalah bekas sudah tertumpuk sejengkal, saya menggunting gambar-gambar di dalamnya, lalu menyusun ulang dan menempelkan gambar-gambar itu pada sehelai kertas. Kurang lebih satu tahun terakhir saya berhenti. Mungkin bosan. Tapi kini saya membuat kolase dengan gairah yang belum pernah saya rasakan.

Belasan majalah habis dalam dua hari. Ujung-ujungnya bosan lagi dan kepala saya tetap terasa mau pecah.

Nongkrong dengan teman-teman mungkin akan menggebah penderitaan, tapi jelas itu bukan langkah yang bijak. Meski teman-teman saya sama bosannya, belum tentu mereka mau kami saling membunuh lewat rulet rusia versi corona.

Mau tak mau, saya harus kembali mencari obat kejenuhan digital dan beradaptasi dengan kehidupan dalam ruangan yang kian hari kian asing ini. Berbagai cara dilakukan oleh orang-orang yang terperangkap di seluruh dunia. Mereka bertukar tantangan, berbagi referensi menghadapi kebosanan, hingga nongkrong online melalui video conference. Lucu juga. “Sepertinya layak dicoba,” pikir saya.

Desperate times call for desperate measures. Ada pria Cina yang berlari mengelilingi ruang tamunya berulang-ulang sampai 50 kilometer, ada pula pasangan Australia yang membeli anggur menggunakan drone selagi terjebak di kapal pesiar Diamond Princess.

Mungkin itulah cara memukul balik kehidupan yang meludahi kita saat ini.

Tidak ada salahnya meniru, maka saya mulai dengan kegiatan interaktif jarak jauh. Cukup menyenangkan. Puncaknya, saya bersulang online dengan seorang teman--kami menikmati minuman masing-masing sambil ngobrol melalui video conference. Kami melewati malam itu dengan banyak tawa. Tentu saja menertawakan nasib kami sendiri.

Saya merasa telah cukup lama lekat dengan teknologi, tapi situasi kini menuntut lebih jauh. Saya harus memaksimalkan potensi teknologi untuk mengatasi krisis. Wajar bila gagap, sebab saya harus mengatur ulang hidup secara drastis. Beberapa minggu lalu saya masih bisa bepergian seenak hati ke sana ke mari, membaur dalam keramaian, nongkrong-nongkrong hepi di kafe. Sekarang, semua orang harus lebih sering menatap layar, bahkan untuk melakukan kunjungan penjara

Kelak, setelah pandemi ini berakhir, pertandingan-pertandingan sepak bola di stadion akan dipenuhi para suporter, kafe-kafe akan dipenuhi sobat kopi dangdut, dan para siswa akan kembali berputus asa di sekolah. Orang-orang akan menyanyi bersama lagi di konser musik. Saya akan menunjukkan karya kolase saya kepada teman-teman secara langsung dan kami akan bersulang. Kita akan kembali berpelukan dan berjabat tangan. Bertahanlah, kita pasti sanggup melewati ini semua.

Related Article