7 Spot Selfie di Rabbit Town yang Diduga Plagiat

Rabbit Town menjadi tempat wisata swafoto baru yang sedang nge-hits di Bandung saat ini. Hebok bukan hanya karena ramai dikunjungi ribuan pengunjung, tapi juga karena ada tudingan plagiarisme terhadap sejumlah lokasi foto di kawasan wisata yang berlokasi di Jalan Rancabentang Ciumbuleuit itu. Tidak cuma satu, tapi setidaknya ada tujuh spot foto yang mirip dengan karya seniman luar negeri. Apa aja?

1. Love Light

Spot foto di Rabbit Town, Love Light, yang dituding menjiplak karya Chris Burden berjudul Urban Light. Foto: Yuli Saputra

Love Light adalah salah satu wahana foto yang berupa seni instalasi dengan deretan pilar-pilar berwarna putih menjulang tinggi yang dilengkapi lampu hias di atasnya. Wahana ini menjadi incaran pengunjung untuk selfie lantaran keunikannya. Pilar-pilar ini akan terlihat keindahannya ketika lampu-lampunya dinyalakan saat malam datang.

Sayangnya, Love Light ini menjiplak karya seniman Chris Burden berjudul Urban Light, yang disimpan di Los Angeles County Museum of Art (LACMA). Karya Burden yang berupa 202 lampu jalan ini dipamerkan pada 2008 lalu.

2. Patricco Stiker Room

Patricco Sticker Room di Rabbit Town dianggap meniru karya seniman Jepang, Yayoi Kusama. Foto: Yuli Saputra

Dinding di sebuah ruangan di Rabbit Town dipenuhi bulatan beraneka ukuran dan warna. Sangat menarik dan instagrammable banget! Pantas aja jika wahana foto yang diberi nama Patricco Striker Room ini menjadi tempat buruan para penggila selfie, meski untuk masuk ke wahana ini harus merogoh kocek sebesar Rp10 ribu.

Namun sayangnya, konsep polka dot warna-warni ini dianggap meniru karya seniman Jepang, Yayoi Kusama, yang diberi tajuk Obliteration Room.

3. Angel Wings

Sayap malaikat di salah satu dinding Rabbit Town ini mirip dengan Angle Wings karya seniman Colette Miller. Foto: Yuli Saputra

Cukup banyak memang latar foto dengan tema sayap malaikat. Rabbit Town juga enggak mau ketinggalan. Di salah satu dinding di area Dove Garden, terlihat lukisan dua sayap yang terkepak.  

Namun sepertinya, Rabbit Town tidak percaya diri menggambar sayap malaikat dengan ide sendiri. Tempat wisata milik pengusaha properti Henry Husada ini malah menyontek Angel Wings karya Colett Miller.

4. Banana di Pink of Ice Cream

Seni instalasi pisang pink dan kuning yang menjiplak karya seni di Banana Split Room yang berada di Museum of ice Cream Los Angeles. Foto: Yuli Saputra

Pernah berkunjung ke Museum of Ice Cream Los Angeles? Jika pernah, pasti akan mengenal konsep latar foto dengan ornamen untaian pisang berwarna pink dan kuning yang terlihat di Rabbit Town.  Latar foto dengan konsep pisang ini memang mirip dengan seni instalasi di Banana Split Room yang berada di Museum of Ice Cream Los Angeles.

Tidak hanya seni instalasinya yang ditiru, tapi Rabbit Town juga menjiplak nama Museum of Ice Cream sebagai nama salah satu wahana fotonya.

5. Palm Mural

Lukisan dinding pohon palem ini menyontek Palm Mural di Museum of Ice Cream Los Angeles. Foto: Yuli Saputra

Masih di area Museum of Ice Cream versi Rabbit Town, ada lukisan dinding bertema pohon Palem.  Lagi-lagi, lukisan dinding itu mirip dengan Palm Mural di California Room Museum of Ice Cream Los Angeles.

6. Ice Cream Cone Light

Lampu-lampu dengan hiasan ice cream cone ini juga sama dengan Ice Cream Dreams di Museum of Ice Cream Los Angeles. Foto: Yuli Saputra

Tidak mengherankan bila Rabbit Town memakai Museum of Ice Cream sebagai nama salah satu wahana fotonya. Sebab, karya Museum of Ice Cream yang dijiplak tidak hanya Banana Split Room dan Palm Mural saja, tapi juga Ice Cream Dreams, yakni seni instalasi berupa ice cream cone dengan lampu menyala sebagai pengganti es krimnya. Wahana foto ini menjadi yang terfavorit, sehingga pengunjung harus antri untuk foto di spot ini. 

Rabbit Town rupanya ingin membuat versi mini Museum of Ice Cream. Sayangnya, manajemen tidak mencantumkan nama si pembuat karya di setiap karya jiplakannya. Pengunjung pun harus membayar Rp20 ribu untuk masuk ke wahana ini.

7. Rainbow Stairs

Rainbow Stairs berkonsep sama dengan tangga pelangi di Museum of Ice Cream Los Angeles. Foto: Yuli Saputra

Spot ini memang tidak bisa dikatakan sepenuhnya meniru, tapi secara konsep mirip dengan tangga pelangi karya Space.ram di Museum of Ice Cream Los Angeles. Jika setiap anak tangga di tangga pelangi milik Museum of Ice Cream Los Angeles dicat penuh dengan warna yang berbeda, Rainbow Stairs Rabbit Town hanya dicat di salah satu bagiannya saja.

Manajemen Belum Klarifikasi

Hingga berita ini ditulis, Asumsi belum mendapat klarifikasi dari Henry Husada, sebagai pemilik Rabbit Town. Sementara General Manager Rabbit Town Ferdy Candra saat akan ditemui di lokasi, malah dikabarkan telah mengundurkan diri dari jabatannya. Manajemen pun belum menunjuk penggantinya. 

Dugaan plagiat ini mencuat setelah Ari Kiswinar, yang sempat berselisih dengan ayahnya, Mario Teguh ini, menulis di akun Instagram dan twitter pribadinya. Dalam postingan-nya, Ari juga mention akun Museum of Ice Cream yang langsung menanggapinya dengan mengucapkan terima kasih. Museum yang ada di beberapa kota di Amerika ini juga akan segera membahas dugaan plagiat ini dengan pengacaranya.

Meski bungkam, tapi manajemen Rabbit Town tampaknya tidak tinggal diam. Endi, seorang pegawai Rabbit Town, mengungkapkan, manajemen berencana mengganti bentuk stiker di Patricco Stiker Room yang tadinya polka dot menjadi berbentuk kelinci, sesuai tema tempat wisata itu.

“Rencananya mau diganti stikernya dengan bentuk kelinci, masih warna-warni, tapi enggak tahu kapan,” kata Endi saat ditemui di Rabbit Town, Minggu, 1 April.

Namun, masih belum diketahui apa yang akan dilakukan manajemen terhadap karya-karya lain yang dianggap plagiat.

Isu Plagiat Tak Surutkan Pengunjung

Baru dibuka Februari 2018 lalu, Rabbit Town langsung menyedot perhatian para penyuka swafoto. Media sosial ikut membantu promosi tempat wisata yang memiliki luas sekitar 2 hektar ini. Banyak pengunjung yang datang ke Rabbit Town karena sebelumnya melihat foto-foto berlatar Rabbit Town di media sosial. Wahana foto yang ditawarkan Rabbit Town memang instagrammable sehingga membuat ribuan orang menyempatkan diri mengunjungi tempat ini.

Saat libur Paskah kemarin, tercatat hingga belasan ribu orang yang berkunjung ke Rabbit Town.

“Hari Jumat pengunjungnya sampai empat ribu orang, Sabtu sampai tujuh ribu orang,” tutur seorang karyawan Rabbit Town yang bertugas menjaga pintu masuk Museum of Ice Cream. Ia tak bersedia namanya disebutkan karena alasan keamanan.

Seorang pengunjung, Intan, mengaku tertarik datang ke Rabbit Town karena konsep fotonya yang menarik. Apalagi gadis berusia 18 tahun itu berprofesi sebagai model yang senang memburu tempat-tempat unik untuk berpose dan kemudian dibagikan di media sosial. Intan mengaku tidak mendengar kabar soal tudingan plagiat terhadap Rabbit Town.

“Enggak tahu kalau soal plagiat,” katanya.

Pengunjung lainnya, Anna Lisnawati, mengaku telah mendengar kabar soal dugaan plagiat Rabbit Town. Namun, hal itu justru membuatnya tertarik untuk datang ke tempat wisata yang buka mulai pukul 10:00 – 20:00 WIB ini. Menurutnya, apa yang dilakukan Rabbit Town bukan plagiarisme tapi, "terinspirasi."

“Kita sih senang-senang aja, jadi enggak usah jauh-jauh ke Museum of Ice Cream Los Angeles buat foto,” kata perempuan asal Garut berusia 27 tahun ini. Kamu setuju?

Related Article