Isu Terkini

AS Sebut TKA China jadi Korban Perdagangan Manusia di Indonesia

Manda Firmansyah — Asumsi.co

featured image
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/aa.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken mengungkap kasus perdagangan manusia di Indonesia. Ia menyebut ada perdagangan manusia di Indonesia dengan korban tenaga kerja asing (TKA) asal China, Zhang Qiang. 

Nasib TKA China: Zhang menandatangani proyek Belt and Road Initiative (BRI) di Indonesia pada 2021. 

“Dia tertarik dengan bayaran yang lebih tinggi, yang dia janjikan kepada putrinya akan digunakan untuk membelikannya tempat tidur. Tetapi ketika dia tiba di Indonesia, paspornya dicabut, diperintahkan untuk menandatangani kontrak untuk jangka waktu yang lebih lama dan gaji yang lebih rendah dari yang dijanjikan,” ucapnya, dilansir dari laman resmi Gedung Putih, Selasa (19/7/2022). 

Penjaga keamanan bersenjata berpatroli di kamp pekerja, membuat pelarian hampir mustahil. Setelah gagal mendapatkan bantuan dari kedutaan China di Jakarta, 

Zhang berhasil naik perahu untuk melarikan diri dari Indonesia melalui Malaysia. Akan tetapi, ditangkap oleh otoritas Malaysia. Laporan terakhir menunjukkan nasib Zhang yang sudah berada di jalur untuk dideportasi kembali ke China. 

Korupsi: Berdasarkan laporan tahunan perdagangan manusia, kata dia, korupsi menjadi alat utama para pelaku pedagang manusia. Pejabat pemerintah yang terlibat mungkin menutup mata terhadap kegiatan terlarang. Pejabat pemerintah, kata dia, memberikan dokumen palsu untuk pekerja dan petunjuk kepada pedagang terkait penggerebekan yang akan datang. 

“Korupsi memungkinkan para pedagang untuk terus bertindak tanpa hukuman,” ucapnya.

Perbudak rakyat sendiri: Sejumlah negara, kata dia, menjadikan rakyatnya sendiri korban perdagangan orang. Misalnya, sebagai pembalasan atas ekspresi politik atau melalui kerja paksa pada proyek-proyek kepentingan nasional. 

Itu bisa terlihat seperti menundukkan orang, termasuk anak-anak, untuk kerja paksa di sektor-sektor utama – pertambangan, penebangan, manufaktur, pertanian – atau mengirim anggota kelompok etnis minoritas untuk ‘dideradikalisasi’ di kamp-kamp. 

“Ini juga bisa berarti mengerahkan pekerja di seluruh dunia tanpa memberi tahu mereka ke mana mereka pergi atau apa yang akan mereka lakukan, menyita paspor dan gaji, memaksa mereka ke dalam kondisi kerja yang berbahaya, dan terus-menerus memantau pergerakan mereka,” ujar Blinken.

Baca Juga:

Tukang Las Kereta Cepat Jakarta-Bandung Didatangkan dari China 

Polisi Buka Peluang Restorative Justice Kasus yang Dicurhatkan Pedagang ke Jokowi 

Fakta Terkini TKA China Pakai Seragam Loreng di Aceh

Share: AS Sebut TKA China jadi Korban Perdagangan Manusia di Indonesia